Pagi Senin Kliwon
01 — Pagi yang Tak Bosan Pagi ini Senin Kliwon, 17 Mulud. Kalender Jawa menunjukkan tahun 1959 Dal, sementara kalender Masehi 31 Agustus 2026. Surakarta masih setengah mengantuk. Matahari naik dari timur dengan disiplin yang membuatku iri. Ia tak pernah bosan menjalankan tugasnya. Setiap hari datang, menyinari genteng-genteng kampung, pematang sawah yang mulai mengering, dan amben bambu di depan rumahku. Aku duduk di amben itu. Kopi hitam sudah dingin. Harapan dan cita-cita — ah, dua kata itu terasa jauh sekali pagi ini. Tidak jelas ke depan mau dibawa kemana. Seperti kabut di atas Bengawan Solo, ada tapi tak bisa dipegang. Saat itulah bayangan panjang jatuh di halamanku. 02 — Tamu 90 Tahun Seorang kakek berdiri di gapura. Usianya mungkin 90 tahun. Tubuhnya kurus tapi tegak. Ia memakai blangkon coklat yang sudah luntur, baju lurik, dan sarung kotak-kotak yang dilipat setinggi lutut. Matanya... matanya bening sekali, tidak seperti mata orang tua pada umumnya. Seperti mata ba...