CECEP MUHAMMAD DAN DUA AYAT YANG BIKIN WARUNG KOPI JADI TEMPAT TAFAKUR
BAB 1: WARUNG BU LILIS Aku Cecep Muhammad. Hari itu aku duduk di warung Bu Lilis sama dua makhluk yang kalau digabung IQ-nya masih kalah sama struk belanjaan. Namanya Ucup dan Jono. Ucup lagi galau karena ditolak kerja. Jono lagi galau karena diterima kerja. Aku? Aku lagi galau karena memikirkan ayat. "Kenapa sih kita diciptakan?" tanya Ucup sambil ngaduk kopi yang gulanya udah kebanyakan, seperti hidupnya. Jono menjawab dengan gaya orang yang habis baca satu halaman Wikipedia: "Untuk sukses, Cup. Untuk jadi orang kaya." Aku menghela napas. "Salah." Terus aku tulis di tisu warung: Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya'buduun. Ucup melot. "Artinya apa, Cep?" "Artinya, kita diciptakan bukan buat jadi karyawan teladan, Cup. Kita diciptakan buat ibadah." Jono protes, "Berarti kita harus sholat terus di warung ini?" "Menurut Abu Hamid Al-Ghazali," kataku, "Ibadah itu bukan cuma yang di sajadah. Ib...