Bapak, Ibu, dan Surga di Dapur
Bapak, Ibu, dan Surga di Dapur Bab 0: Prolog yang Tidak Penting-penting Amat Aku pernah dikutuk jadi celaka sama Rasulullah. Tidak langsung ke aku sih. Tapi kata guruku, ada haditsnya. "Celaka, celaka, celaka, orang yang punya orang tua masih hidup, satu atau dua-duanya, tapi tidak membuatnya masuk surga." Waktu mendengar itu aku diam. Bukan karena insyaf. Karena aku lagi mikir, celaka itu rasanya kayak gimana. Apakah seperti tidak kebagian gorengan terakhir di meja? Atau seperti ditolak Milea? Ternyata lebih celaka dari itu. Namaku Gilang. Bukan Dilan. Kalau Dilan itu berat, dia tidak rindu, dia yang dirindukan. Kalau aku, berat juga. Berat disuruh Ibu beli gas elpiji. --- Bab 1: Bapak Bapakku namanya Bapak. Bukan, nama aslinya Pak Warsa. Bapakku itu lelaki Sunda yang pendiam. Se-pendiam motor Astrea yang mogok. Dia tidak banyak bicara, tapi sekali bicara, isinya tagihan listrik. Sejak pensiun, kerjaan Bapak adalah: Menyiram tanaman yang sebenarnya tidak perlu di...