JALAN DAN TUJUAN
Namaku Fahri. Bukan Fahri yang di Kairo itu, tapi aku juga pernah mengaji di pelataran Al-Azhar. Kini aku pulang, menjadi guru ngaji kecil di sebuah langgar kayu di tepi Bengawan Solo. Di langgar itulah aku bertemu dengannya. Namanya Aisyah. Aisyah bukan santri biasa. Ia pintar, hafal Alfiyah, suaranya merdu saat melantunkan Burdah. Tapi hatinya gelisah. Sejak ayahnya — seorang mursyid tarekat — wafat, ia tenggelam dalam wirid yang panjang. Ia menangis berhari-hari di depan makam ayahnya. "Aku rindu Rasulullah, Mas Fahri," katanya suatu senja setelah ngaji Sirrul Asrar. "Sampai aku lupa, aku ini siapa. Aku berdzikir menyebut namanya terus, tapi hatiku kosong. Aku merasa sudah sampai, tapi kenapa Allah terasa jauh?" Aku ingat pesan guruku di Mesir, tentang sebuah kalam dari kitab Sirrul Asrar karya Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Jailani. Aku tidak menjawabnya dengan dalil panjang. Aku hanya mengajaknya ke tepi sungai. "Lihat perahu itu, Dik Aisya...