UDIN, JONO, DAN ZAHRA YANG TIDAK PERNAH SELESAI


PROLOG: Catatan Dari Aku.

Kata Ayahku, hidup itu seperti ngopi.
Kadang pahitnya kebanyakan, kadang manisnya kelupaan diaduk.

Kata Udin, hidup itu seperti parkir liar.
Kadang kamu sudah jaga motor orang seharian, yang punya motor lupa bayar.

Kata Jono, hidup itu seperti gorengan.
Enaknya pas anget.

Dan kata Zahra, hidup itu...
Zahra tidak pernah bilang apa-apa. Zahra cuma senyum. Dan dari senyumnya itu, kami jadi banyak mikir.

BAB 1: Udin

Udin adalah teman paling setia yang pernah aku kenal.

Dia punya teori bahwa semua masalah di dunia ini bisa selesai dengan dua cara: tidur, atau makan. Jika dua-duanya tidak mempan, berarti masalahnya serius dan harus ditunda besok.

Udin itu tukang parkir di depan kampus. Tapi cita-citanya jadi astronot.

Udin jatuh cinta sama Zahra sejak semester 3. Itu cinta yang paling murni, karena Udin bahkan tidak berani nanya Zahra pulang naik apa.

Aku tanya, "Zahra itu menurutmu apa, Din?"

Udin jawab, "Zahra itu kayak helm yang pas. Jarang ada, sekali ada, bikin kepala aman dan hati tenang."


BAB 2: Jono

Jono adalah kebalikan dari Udin.

Kalau Udin adalah bumi, Jono adalah komet yang kesasar. Cepat, berisik, dan selalu bikin heboh.

Jono itu mahasiswa abadi. 5 tahun di kampus bukan karena bodoh, tapi karena menurutnya, "Kampus adalah tempat nongkrong yang ada wifi gratisnya."

Jono juga suka sama Zahra.

Tapi beda sama Udin yang diam-diam, Jono itu berisik. Tiap hari dia bikin puisi untuk Zahra.

Puisinya begini:

Zahra,
Kalau kamu jadi gorengan,
Kamu pasti tahu isi,
Soalnya di luar kamu sederhana, di dalam kamu penuh kejutan.

Zahra baca puisi itu, lalu ketawa selama 2 menit. Jono menganggap itu lampu hijau. Padahal menurutku, itu lampu kuning yang sudah mau merah.

Suatu sore, di warung kopi Mang Odang, terjadilah dialog itu.

Udin: "Jon, kamu serius suka sama Zahra?"
Jono: "Serius, Din. Serius kayak dosen pembimbing yang tiba-tiba baik."
Udin: "Tapi aku juga suka sama Zahra."
Jono: "Ya sudah, kita saingan aja secara sehat."
Aku: "Masalahnya, Zahra-nya nggak pernah minta disaingin."

BAB 3: Zahra

Zahra datang jam 4 sore. Pakai jaket jeans kebesaran dan bawa buku yang tidak pernah selesai dibaca. Judul bukunya: Cara Bahagia Tanpa Harus Punya Pacar.

Dia pesan kopi hitam tanpa gula.

Aku tanya, "Ra, kamu nggak capek disukai dua orang sekaligus?"

Zahra menyeruput kopinya, lalu menjawab dengan jawaban paling Pidi Baiq yang pernah ada:

"Kenapa harus capek? Disukai itu kan hadiah. Yang bikin capek itu kalau disuruh memilih. Padahal, aku di sini cuma mau ngopi. Bukan mau ngasih keputusan sidang skripsi."

Udin dan Jono saling menatap.

Jono: "Jadi, kamu nggak suka kami?"
Zahra: "Aku suka kalian. Suka sebagai Udin dan sebagai Jono. Kenapa sesuatu yang sudah bagus sebagai persahabatan harus dirusak jadi percintaan? Percintaan itu kan persahabatan yang ditambah bingung."

Udin mengangguk-angguk seperti paham, padahal aku tahu dia tidak paham.

"Terus kami harus gimana, Ra?" tanya Jono.

Zahra tersenyum.

"Gini ya. Udin, kamu tetap jadi Udin yang jaga parkir tapi cita-citanya ke bulan. Jono, kamu tetap jadi Jono yang puisinya jelek tapi tulus. Dan aku, tetap jadi Zahra yang kadang ada, kadang nggak. Kita bertiga tetap jadi kita. Bukankah itu lebih keren daripada harus ada yang patah hati?"

Sore itu, untuk pertama kalinya, Udin dan Jono tidak berdebat. Mereka tertawa.

EPILOG

Sekarang Udin masih jaga parkir. Tapi dia sudah nabung buat beli teleskop.

Jono masih bikin puisi. Tapi sekarang puisinya bukan cuma untuk Zahra, tapi untuk semua orang yang nongkrong di warkop.

Dan Zahra?

Zahra sudah lulus dan pindah ke Jogja.

Dia ninggalin secarik kertas di warkop kami. Tulisannya:

Untuk Udin dan Jono -
Terima kasih sudah menyukai aku dengan cara yang tidak merepotkan.
Jangan berhenti jadi keren.
- Zahra


Udin melipat kertas itu dan menyimpannya di dompetnya. Di sebelah karcis parkir.

Jono memfotonya dan menjadikannya wallpaper HP.

Aku? Aku menulis novel ini.

Bandung, 2026.

---


Komentar

Postingan Populer