NAUMUL 'ALIM




1. Di Pintu Masjid Nabawi

Malam itu Madinah dingin.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memasuki masjid. Di dalam, lampu-lampu minyak zaitun temaram. Ada dua manusia di dalamnya.

Di saf depan, seorang pemuda tengah shalat. Sujudnya lama. Tangisnya tertahan. Ia bermunajat, memanggil nama Allah dengan suara bergetar.

Di sudut tiang, seorang lelaki tua berselimut sorban, tertidur pulas. Kitab di pangkuannya masih terbuka. Nafasnya teratur, sesekali ia berdzikir dalam tidurnya.

Dan di pintu masjid, Rasulullah melihat seseorang berdiri. Wajahnya buruk, gelisah, kakinya tidak berani melangkah masuk.

Rasulullah yang mulia itu tahu siapa dia.

"Apa yang kau lakukan di sini, wahai Iblis?" tanya Rasulullah.

Iblis itu menunduk. Ia tidak berani menatap wajah yang penuh cahaya itu.

"Aku ingin masuk ke dalam, Ya Rasulullah. Aku ingin merusak shalat pemuda yang sedang shalat itu," jawabnya jujur.

Rasulullah mengerutkan dahi.

"Lalu mengapa kau masih berdiri di sini? Mengapa tidak kau masuk?"

Iblis itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah pojok masjid. Menunjuk pada lelaki tua yang sedang tidur itu.

"Aku takut padanya," bisiknya.

Rasulullah terheran.

"Mengapa engkau takut pada orang yang tidur itu? Bukankah orang yang shalat itu sedang beribadah, bermunajat kepada Allah, sedangkan orang yang tidur itu sedang lupa?"

Iblis menggeleng dengan getir.

"Ya Rasulullah, pemuda yang shalat itu adalah ahli ibadah, tapi ia jahil. Ia tidak berilmu. Ia mudah aku suap. Cukup aku bisikkan di hatinya rasa bangga karena shalatnya yang lama, atau aku buat ia ragu tentang jumlah rakaatnya, maka rusaklah shalatnya."

Iblis menarik nafas panjang.

"Tapi lelaki yang tidur itu adalah orang Alim. Orang yang berilmu. Jika aku menyesatkan ahli ibadah itu dan merusak shalatnya, aku khawatir orang alim itu akan terbangun dari tidurnya. Dan dengan satu kalimat saja, dengan ilmunya, ia akan menyadarkan pemuda itu, meluruskan niatnya, dan memperbaiki shalatnya. Ilmunya itu yang aku takuti, Ya Rasulullah."

Masjid itu hening.

Angin Madinah bertiup lembut membawa debu.

Lalu dari lisan mulia Rasulullah, keluarlah sebuah mutiara hikmah yang akan dijaga oleh para ulama hingga ribuan tahun setelahnya:

"Tidurnya seorang yang alim, lebih utama dan lebih baik daripada ibadahnya orang yang bodoh."

2. Fahri dan Tidurnya

Aku baru memahami hadits itu ketika aku di Kairo.

Namaku Fahri. Aku melihat sendiri di Masjid Al-Azhar.

Sahabatku, Ustadz Fulan, shalat Tahajud sepanjang malam. Sementara guruku, Syaikh Usamah, tertidur di sampingnya, dengan kitab Tafsir masih di dadanya.

Dulu aku mengira yang mulia adalah yang shalat semalam suntuk.

Ternyata yang ditakuti syaitan bukanlah yang banyak gerakannya, tapi yang dalam ilmunya.

Sebab begitulah cinta.

Ada cinta yang membara, tapi tanpa ilmu, ia mudah dibelokkan syaitan menjadi riya dan ujub.

Dan ada cinta yang tenang. Bahkan ketika ia tertidur, tidurnya pun bernilai ibadah. Karena ia tidur dengan wudhu, dengan niat agar kuat untuk kembali beribadah kepada Allah. Tidurnya pun dijaga oleh Allah. Bahkan tidurnya pun membuat Iblis tidak berani mendekat.

Wahai adik-adikku,

Jangan hanya sibuk menjadi ahli ibadah yang rajin tapi kosong dari ilmu.

Jadilah orang alim, walau engkau kelihatannya hanya sedang tidur.

Karena sesungguhnya, Iblis tidak pernah takut pada orang yang capek karena ibadah.

Iblis hanya takut pada orang yang mengerti, untuk siapa dan kenapa ia harus beribadah.

Yaitu Allah, Azza wa Jalla.

Komentar

Postingan Populer