DUNIA MASIH TEGAK KOK
---
Prakata dari Aku.
Kata guru ngajiku, dunia ini tegaknya ditahan sama 4 baut. Bukan baut 12, bukan baut motor. Empat baut yang kalau satu lepas, dunia jadi oleng.
Baut itu adalah:
Orang alim yang mengamalkan ilmunya.
Pemimpin yang adil.
Orang kaya yang tidak pelit.
Orang miskin yang tidak menjual akhiratnya demi dunia.
Katanya begitu. Aku catat. Lalu aku lihat sekeliling. Wah, bener juga.
Ini cerita tentang kampungku.
1. Orang Alim
Di kampungku ada Ustadz Solmed. Bukan Solmed yang di TV itu. Ini Ustadz Solmed versi KW 3, tapi ilmunya asli.
Namanya Ustadz Somad.
Ustadz Somad itu hafal banyak hal. Hafal Qur'an, hafal hadits, hafal nama-nama janda yang butuh bantuan. Semua hafal.
Enaknya Ustadz Somad, kalau ceramah, dia praktek.
Dia ceramah tentang sedekah, besoknya dia sedekah duluan. Dia ceramah tentang jangan marah, pas disalip angkot, dia tidak marah. Paling cuma istigfar kenceng.
Aku pernah tanya, "Tadz, capek gak jadi orang alim yang bener?"
Dia jawab, "Capek, Jo. Lebih gampang jadi orang alim yang pinter ngomong doang. Tapi kalau cuma ngomong, ilmu jadi kayak baliho. Kelihatan besar, tapi tidak bisa ngademin orang yang kepanasan."
Sejak itu aku paham. Dunia masih tegak karena masih ada orang kayak Ustadz Somad. Yang ilmunya tidak cuma di mulut, tapi sampai ke kaki. Sampai mau jalan ke masjid pas hujan.
2. Pemimpin Yang Adil
Lurah di tempatku namanya Bu Lurah Lastri.
Bu Lastri ini aneh. Kalau ada bantuan beras, dia bagi rata. Benar-benar rata. Sampai kalau ada yang protes, dia timbang lagi depan orangnya.
Pernah ada keponakannya sendiri datang minta jatah PKH padahal rumahnya sudah keramik.
Bu Lastri bilang, "Maaf, kamu tidak miskin. Kamu cuma pura-pura miskin biar dapat bantuan. Miskin beneran sama miskin pura-pura itu beda. Bedanya kayak cinta beneran sama cinta karena pulsa habis."
Keponakannya ngambek. Sekampung malah tepuk tangan.
Aku tanya sama Bu Lastri, "Bu, tidak takut tidak dipilih lagi?"
Bu Lastri jawab sambil makan gorengan, "Jo, jadi pemimpin itu bukan lomba disukai. Jadi pemimpin itu lomba siapa yang berani tidak disukai demi yang benar. Kalau cuma pengen disukai, jadi tukang es krim aja."
Dan karena ada satu orang adil kayak Bu Lastri, satu kampung jadi tidak berani curang sembarangan. Keadilan itu menular. Kayak flu. Tapi versi baiknya.
3. Orang Kaya Yang Tidak Pelit
Orang kayanya adalah Koh Ahok. Punya toko material terbesar di kecamatan.
Koh Ahok ini kaya, tapi kalau ada orang meninggal, dia yang pertama datang bawa papan. Kalau ada masjid bocor, dia yang pertama bawa semen. Tidak banyak ngomong.
Aku pernah nanya, "Koh, kenapa tidak pelit? Kan kalau pelit, bisa lebih kaya lagi."
Koh Ahok lagi ngitung paku, terus dia berhenti.
"Jo," katanya, "Uang itu kayak darah. Kalau muter, sehat. Kalau ditahan di satu tempat terus, jadi bisul. Saya tidak mau jadi bisul buat kampung sendiri."
Gila. Filosofi toko material.
Tapi gara-gara Koh Ahok tidak pelit, banyak anak bisa sekolah. Warung-warung kecil tidak tutup. Dunia di kampungku muter lagi.
Orang kaya yang tidak pelit itu bukan pahlawan. Dia cuma ngerti, hartanya ada hak orang lain di dalamnya.
4. Orang Miskin Yang Tidak Menjual Akhiratnya
Nah, ini aku.
Aku Jo. Pengangguran yang hampir profesional. Kadang jadi kuli, kadang jadi ojek, kadang jadi penonton yang baik.
Aku miskin. Miskin yang kalau ke ATM cuma buat numpang ngadem.
Bulan lalu, ada orang nawarin aku kerjaan enak. Gajinya gede. Kerjaannya cuma satu: jadi buzzer. Nyebar fitnah tentang Bu Lastri dan Ustadz Somad. Bikin orang-orang benci sama mereka.
Aku butuh uang. Sumpah, butuh banget. Ibuku sakit.
Aku hampir mau.
Tapi malamnya aku lihat Ustadz Somad masih ngajar ngaji dengan lampu minyak karena listrik masjid mati. Bu Lastri masih lembur nulis data warga miskin biar tidak salah sasaran. Koh Ahok masih bagi-bagi sembako diam-diam.
Lalu aku mikir, kalau aku jual akhiratku demi dunia, siapa nanti yang doain mereka? Kan tinggal orang miskin kayak aku yang doanya didenger, karena kami tidak punya siapa-siapa lagi selain Allah.
Akhirnya aku tolak kerjaan itu.
Ibuku akhirnya sembuh juga. Dengan cara yang lain. Dengan berhutang dulu ke Koh Ahok, yang bilang, "Bayarnya pakai doa aja, Jo."
Dan aku doa. Tiap malam. "Ya Allah, jaga Ustadz Somad, jaga Bu Lastri, jaga Koh Ahok. Jaga dunia ini."
---
Malam ini aku duduk di warung kopi. Melihat kampungku.
Masjid masih ada yang ngaji. Kelurahan masih ada yang adil. Toko material masih ada yang bagi semen gratis. Dan aku, si miskin, masih ada yang menolak menjual akhirat.
Empat baut itu masih kepasang.
Pantas dunia masih tegak.
Meskipun agak miring sedikit, karena aku duduknya miring.
Selesai.
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih