Cecep dan Ayah yang Sudah Menjadi Cahaya

Ayah Cecep Muhammad sudah tiada sejak Cecep kelas 2 SMA.

Tidak ada drama. Tidak ada musik sedih. Ayah cuma pamit tidur siang, terus tidak bangun lagi. Gitu aja. Sesederhana itu cara semesta mengambil seseorang yang paling kamu cintai. Tidak pakai aba-aba.

Namanya Pak Muhammad. Orang-orang manggilnya Mang Mamat. Tukang servis radio di Pasar Palasari.

Cecep masih ingat kalimat terakhir Ayah, bukan kalimat puitis. Ayah bilang, "Cep, tolong ambilkan obeng min yang gagang kuning."

Obeng itu sampai sekarang masih Cecep simpan. Tidak pernah dipakai. Takut aus.

Malam sebelum Ayah meninggal, Ayah pernah bilang satu kalimat yang terus nempel di kepala Cecep seperti perangko.

Ayah bilang:

"Anakku, percayalah pada dirimu sendiri. Itulah kekuatan yang akan melindungimu nanti."

Waktu itu Cecep menganggap itu kalimat bapak-bapak biasa. Kalimat yang muncul karena Ayah bingung mau ngomong apa setelah adzan Maghrib.

Baru setelah Ayah tidak ada, Cecep mengerti. Ternyata itu bukan nasihat. Itu warisan.

---

Sekarang Cecep umur 22. Kuliah di salah satu kampus di Bandung. Jurusan yang dia sendiri kadang lupa namanya kalau ditanya orang lain.

Hidup Cecep setelah Ayah tidak ada itu seperti radio yang Ayah servis dulu. Kadang nyala, kadang kresek-kresek, kadang harus digebrak dulu baru bunyi.

Ibu Cecep jualan gorengan di depan rumah. Cecep bantuin. Kadang dia ngerasa minder. Teman-temannya sudah jadi ini-itu. Ada yang sudah jadi barista dengan jenggot yang artistik, ada yang jadi selebgram dengan filter yang menipu.

Cecep? Masih Cecep. Masih bingung bedain percaya diri sama keras kepala.

Sampai suatu hari, Cecep dapat kesempatan lomba servis elektronik se-Jawa Barat. Hadiahnya 10 juta. Lumayan buat berangkatin Ibu umroh.

Masalahnya, Cecep tidak percaya diri. Ia takut. Takut gagal. Takut diketawain. Takut obengnya jatuh.

Malam sebelum lomba, Cecep duduk di bengkel Ayah yang sudah berdebu. Di atas meja, ada foto Ayah lagi senyum, giginya kelihatan satu yang ompong.

Cecep ngobrol. Ya, ngobrol sama foto.

"Yah, Cecep takut."

Foto itu diam. Ya iyalah, foto. Kalau jawab, Cecep yang takut.

Lalu angin masuk dari jendela yang bolong. Kalender lama jatuh. Kebetulan terbuka di halaman yang ada tulisan tangan Ayah sendiri, tulisan jelek, miring-miring:

Anakku, percayalah pada dirimu sendiri. Itulah kekuatan yang akan melindungimu nanti.

Cecep nangis. Bukan nangis meraung-raung ala sinetron. Nangisnya Cecep itu seperti hujan di bulan Juni: tiba-tiba, sebentar, tapi bikin basah seharian.

Dia baru paham. Selama ini Cecep mencari perlindungan dari luar. Dari pujian orang, dari nilai bagus, dari disukai cewek bernama Desi di kelas Fotografi.

Padahal Ayah sudah kasih tau: pelindungnya itu ada di dalam. Namanya percaya sama diri sendiri.

---

Besoknya, lomba.

Tangan Cecep gemetar. Radio butut di depannya rusak parah. Peserta lain sudah bongkar pasang dengan cepat, seperti sulap.

Cecep menarik napas. Ia tidak ingat rumus-rumus yang rumit. Ia cuma ingat suara Ayah.

"Percayalah pada dirimu sendiri."

Dan entah kenapa, obeng gagang kuning itu terasa pas di tangan. Tidak berat, tidak ringan. Pas.

Cecep mulai. Pelan. Tidak buru-buru. Seperti Ayah dulu ngajarin: "Kalau servis itu jangan pakai emosi, Cep. Pakai rasa."

Setengah jam kemudian.

Radio itu bunyi.

Cesss... selamat malam Bandung... ini Radio Malam Minggu...

Seluruh ruangan hening. Lalu tepuk tangan.

Cecep juara dua. Bukan juara satu. Juara satu anak ITB dengan kacamata tebal seperti Doraemon.

Tapi bagi Cecep, juara dua itu sudah seperti juara dunia. Karena untuk pertama kalinya setelah Ayah tiada, Cecep tidak merasa sendirian.

Pulang-pulang, Cecep taruh pialanya di samping foto Ayah.

"Yah, lihat. Obengnya masih ampuh."

Dan di luar, Bandung turun hujan. Cecep ngopi. Gorengan Ibu masih anget.

Hidup kadang-kadang memang begitu. Tidak perlu jadi hebat. Cukup percaya. Nanti semesta yang menyesuaikan.

Sebab Ayah memang sudah tiada. Tapi kalimatnya tidak.

Kalimatnya tinggal. Menjaga Cecep. Selamanya.

Komentar

Postingan Populer