CECEP MUHAMMAD BELAJAR SYUKUR



Bab 1 - Ilmu

Aku Cecep Muhammad.

Kemarin aku dimarahi Mundzir. Bukan karena aku malas. Memang aku malas, tapi bukan itu alasannya.

Alasannya adalah karena aku bilang, "Hidupku lagi sial."

Mundzir langsung pasang muka seperti dosen. "Sial gimana?"

"Motor mogok, cilok habis, dompet tinggal 12 ribu."

Umar yang dari tadi diam, nyeletuk, "12 ribu itu masih banyak, Cep. Bisa buat beli cilok 10 ribu, sisanya 2 ribu buat parkir."

Mundzir menggeleng. Lalu dia membuka buku kecilnya. Buku itu isinya catatan pengajian. Judulnya: Syukur ala Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali.

Kata Mundzir, "Kamu belum punya Ilmu."

Aku bingung. "Ilmu apa? Aku kan sudah tamat SMA."

"Bukan ilmu itu," kata Mundzir. "Kata Imam Al-Ghazali, syukur itu ada tiga. Pertama Ilmu. Yaitu kamu harus tahu dulu nikmat itu dari siapa."

Aku jawab, "Dari Bu Ijah lah. Ciloknya dari Bu Ijah."

Mundzir menghela napas. Napasnya itu napas orang yang imannya sedang diuji oleh temannya sendiri.

"Semua nikmat itu dari Allah, Cep. Bu Ijah itu cuma perantara. Motor, cilok, 12 ribu di dompetmu, itu semua dari Allah. Kalau kamu masih mikir semua dari manusia, syukurmu belum sah."

Aku diam.

Karena kadang-kadang, kalimat sederhana itu menampar paling keras.

QS. Al-Baqarah 152 bilang:
Fadzkuruni adzkurkum wasykuru li wa la takfurun.
Ingatlah Aku, bersyukurlah kepada-Ku, jangan kufur.
Malam itu aku pulang. Motor masih mogok. Tapi aku dorong sambil bilang dalam hati, "Oke, mogoknya dari Allah juga. Berarti ada nikmat lain yang aku lupa lihat."

Dan anehnya, dorong motor jadi tidak terlalu berat.

---

Bab 2 - Hal

Besoknya giliran Umar yang galau.

Umar duduk di warung, menatap kopi Bu Ijah yang hitamnya seperti masa depannya.

"Aku tuh," kata Umar, "udah usaha, tapi kok gini-gini aja ya."

Aku dan Mundzir saling lihat. Ini bab kedua. Namanya Hal.

Kata Imam Al-Ghazali, setelah Ilmu, harus muncul Hal. Hal itu keadaan hati. Senang, puas, lega menerima pemberian Allah.

Mundzir bilang, "Mar, kamu itu menghitung yang tidak ada terus. Coba hitung yang ada."

Umar bingung.

Aku membantu, "Mar, kamu masih punya apa hari ini?"

Umar mikir. "Punya... utang?"

"Bukan itu."

"Punya sendal. Punya warung Bu Ijah. Punya kalian berdua."

Nah itu.

Mundzir mengutip ayat yang kemarin dia tulis:
La-in syakartum la-azidannakum.
Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmatmu. [QS. Ibrahim: 7]
"Syukur itu bukan nunggu nikmat banyak baru senang," kata Mundzir, "Tapi senang dulu, baru nikmatnya ditambah."

Umar menyeruput kopinya. Lalu dia senyum. Senyumnya kecil.

"Enak juga ya kopi Bu Ijah kalau disyukuri."

Bu Ijah dari belakang teriak, "Enak dari tadi! Kamu aja yang ngeluh terus!"

Kami bertiga ketawa.

Dan sore itu, kopi yang sama, warung yang sama, teman yang sama, tiba-tiba rasanya lebih enak. Padahal kopinya tidak ganti. Hatinya yang ganti. Itu yang namanya Hal.

Bab 3 - Amal

Hari ketiga, aku paham kenapa syukur ala Al-Ghazali itu berat.

Karena puncaknya bukan di hati, tapi di Amal.

Mundzir bilang, "Syukur dengan amal itu ada tiga: dengan hati, dengan lisan, dan dengan anggota badan."

Aku: "Maksudnya?"

"Dengan hati: kamu yakin nikmat dari Allah. Dengan lisan: kamu ucap Alhamdulillah. Dengan anggota badan: kamu pakai nikmat itu buat taat, bukan buat maksiat."

Siang itu, dompetku yang 12 ribu kemarin, tiba-tiba dapat rezeki. Aku dapat 50 ribu dari bantuin Mang Ujang parkir.

Umar langsung usul, "Traktir cilok!"

Aku hampir iya. Tapi aku ingat bab Amal. Kata Al-Ghazali:
Jangan gunakan nikmat Allah untuk hal yang dilarang-Nya.
Dan ayatnya:
Fakuluu mimma razaqakumullahu halalan thayyiban wasykuru ni'matallah. Makanlah yang halal baik dan syukurilah nikmat Allah. [QS. An-Nahl: 114]
Jadi aku bagi. 20 ribu buat cilok bertiga, 20 ribu aku kasih ke ibu di rumah, 10 ribu aku simpan buat bensin motor biar besok bisa ke masjid tanpa dorong.

Mundzir melihat itu, lalu bilang, "Nah, itu syukur."

Umar protes, "Loh kok cuma 20 ribu ciloknya?"

Aku jawab, "Mar, syukur itu bukan bikin kenyang sekali. Syukur itu bikin cukup terus."

Umar diam. Lalu mengangguk. Untuk pertama kalinya, Umar mengangguk tanpa bikin masalah baru.

---

Penutup - Kami Bertiga

Malam itu kami duduk lagi di warung Bu Ijah.

Aku Cecep Muhammad, Mundzir, dan Umar.

Tidak ada yang berubah dari hidup kami. Motor masih tua, kopi Bu Ijah masih sama, dompet masih tidak tebal.

Tapi ada yang beda.

Kami tidak lagi ribut soal siapa paling sial. Karena kami sudah belajar dari Imam Al-Ghazali:

Ilmu: Semua dari Allah.
Hal: Senang menerima.
Amal: Pakai buat kebaikan.

Dan kata Mundzir, menutup bukunya,
Wa man yasykur fa innama yasykuru linafsih. Barangsiapa bersyukur, maka ia bersyukur untuk dirinya sendiri. [QS. Luqman: 12]
Allah tidak butuh syukur kita. Kita yang butuh.

Umar menyeruput kopi terakhirnya dan berkata, "Cep, besok kita belajar sabar ya?"

Aku menjawab, "Jangan. Syukur aja belum lulus."

Kami ketawa. Dan Bu Ijah ikut ketawa. Karena akhirnya, warungnya sepi jadi rame lagi oleh tiga orang yang belajar cukup.

Komentar

Postingan Populer