ALHAMDULILLAH LIMA KALI

1. Ucup

Namanya Ucup.

Di Pondok Al-Mubarok, Ucup itu terkenal. Bukan karena pintar. Justru karena sebaliknya. Dia adalah santri paling bodoh se-pondok, se-kecamatan, mungkin se-kabupaten kalau diikutkan lomba.

Kata Pak Yai, "Setiap santri itu punya jalan cahayanya sendiri-sendiri."

Nah, kalau Ucup, kayaknya jalan cahayanya lagi mati lampu.

Sudah 2 tahun mondok, yang hafal cuma satu kalimat: Alhamdulillah. Itu pun kalau disuruh ngulang 10 kali, yang ke-6 dia lupa. Jadi amannya memang 5 kali.

Sampai pada suatu hari Jum'at.

Semua santri senior boyong mendadak karena ada haul akbar di Jawa Timur. Pondok kosong. Yang tersisa tinggal Pak Yai, kucing pondok namanya Kimin, dan Ucup.

Pak Yai menatap Ucup.

"Cup, kamu khutbah Jum'at ya."

Ucup kaget. Ini adalah kepercayaan terbesar sepanjang hidupnya. Lebih besar dari disuruh menjaga sandal jamaah waktu lebaran.

"Beneran, Yai?"

"Beneran."

Ucup mengangguk mantap. Semalaman dia latihan di depan cermin kamar mandi.

Besoknya. Masjid penuh.

Ucup naik mimbar. Grogi. Tangannya dingin kayak es batu habis dari kulkas.

Dia buka mulut:

"Alhamdulillah."

Jamaah diam.

"Alhamdulillah."

Masih diam.

"Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah."

Terus dia duduk. Duduk di antara dua khutbah.

Terus berdiri lagi.

"Alhamdulillah."

Terus komat.

Orang-orang bingung mau marah atau mau ketawa. Akhirnya mereka memilih istighfar. Pak Yai istighfarnya paling panjang.

2. Boyong

Malamnya, Ucup datang ke dalem Pak Yai. Bawa tas kresek hitam besar. Isinya sarung, peci yang sudah penyok, dan buku tulis yang isinya cuma tulisan Alhamdulillah di semua halaman.

"Pak Yai," katanya pelan, "saya mau boyong."

"Kenapa, Cup?"

"Saya nggak bakat ngaji, Yai. Saya sudah coba. Otak saya ini kayak toples kerupuk, Yai. Diisi apa aja, bocor."

Pak Yai nggak langsung jawab. Pak Yai nyeruput kopi.

"Ucup," kata Pak Yai, "kamu tau nggak, kenapa orang mondok?"

"Supaya pintar, Yai?"

"Bukan. Supaya tau, dia itu bodoh. Dan kamu sudah lulus pelajaran itu. Kamu sudah tau kamu bodoh. Itu pinter."

Ucup bingung. Kalimat Pak Yai terlalu tinggi. Dia cuma ngerti kata lulus.

"Jadi boleh boyong, Yai?"

"Boleh. Asal satu syarat."

"Apa, Yai?"

"Kamu harus melanjutkan pekerjaan ayahmu di rumah. Janji?"

Ucup langsung lemes.

Pekerjaan ayahnya? Ya Allah.

Bapaknya Ucup itu penjual gambar.

Bukan pelukis. Penjual gambar.

Keliling kampung bawa map plastik besar isi gambar-gambar. Ada gambar pemandangan gunung ada air terjunnya, gambar kuda lari delapan, gambar Ka'bah, gambar kalender tahun 2019 yang masih dijual di tahun 2024 karena gambarnya masih bagus, sama gambar anak kecil kencing tapi kencingnya air mancur.

Dan bapaknya itu kalau jualan selalu bilang, "Gambar bagus, rezeki bagus, Alhamdulillah."

Ucup takut. Kalau dia nerusin, nanti gimana?

Tapi dia sudah janji.

"Janji, Yai."

3. Penjual Gambar

Ucup pulang.

Bapaknya lagi di teras, lagi ngelap-ngelap gambar macan sama singa berantem.

"Ucup? Kok pulang, Cup?"

"Disuruh Pak Yai nerusin pekerjaan Bapak, Pak."

Bapaknya ketawa.

"Wah, pas. Bapak juga sudah capek muter-muter. Kakinya pegel."

Besok paginya, Ucup berangkat. Bawa map gambar yang lebih besar dari badannya. Kayak kura-kura bawa rumah.

Dia keliling.

"Gambaaar... gambaaar... Alhamdulillah..."

Orang pertama yang dia samperin adalah Bu RT.

"Bu, beli gambar, Bu. Alhamdulillah bagus."

Bu RT lihat gambarnya. Gambar gunung.

"Berapa, Cup?"

"Sepuluh ribu, Bu. Sudah sama Alhamdulillah-nya."

Bu RT beli. Bukan karena butuh gambar, tapi karena Ucup jualannya jujur. Bodoh tapi jujur itu langka.

Siang itu, Ucup keliling lagi.

Di warung kopi, ada bapak-bapak lagi ngobrolin politik.

Ucup datang.

"Pak, beli gambar, Pak. Ada gambar kuda delapan. Alhamdulillah kenceng larinya."

Bapak-bapak itu ketawa. Terus beli.

Lama-lama, Ucup terkenal.

Bukan sebagai Ucup santri bodoh, tapi sebagai Ucup penjual gambar Alhamdulillah.

Kalau dia nawarin gambar Ka'bah, dia bilang: "Alhamdulillah."

Kalau nawarin gambar kalender kadaluarsa, dia bilang: "Alhamdulillah."

Kalau nawarin gambar anak kecil kencing air mancur, dia juga bilang: "Alhamdulillah."

Lima gambar, lima Alhamdulillah. Pas kayak khutbahnya dulu.

Laku keras.

Rumah-rumah di kampung itu yang tadinya kosong dindingnya, sekarang penuh gambar. Ada yang masang gambar macan di dapur. Katanya biar tikus takut.

4. Pak Yai Datang Lagi

Sebulan kemudian, Pak Yai main ke rumah Ucup. Kangen, katanya.

Dilihatnya dinding rumah Ucup penuh gambar. Bagus.

"Cup, gimana jualan gambar?" tanya Pak Yai.

"Alhamdulillah, Yai. Laku. Ternyata bakat saya bukan menghafal kitab, tapi menghafal pembeli."

Pak Yai ketawa.

"Kamu tau nggak, Cup, kenapa saya suruh kamu jualan gambar?"

"Kenapa, Yai?"

"Karena dulu, bapakmu itu santri saya juga. Paling bodoh juga. Khutbahnya cuma Alhamdulillah lima kali. Persis kamu."

Ucup melongo. Map gambarnya jatuh.

"Terus?"

"Terus saya suruh dia pulang jualan gambar. Dan gara-gara gambar-gambarnya itu, masjid di kampung kita jadi bagus. Orang jadi ingat Ka'bah, ingat gunung ciptaan Allah. Kadang dakwah itu nggak harus dari mimbar, Cup. Bisa dari gambar 10 ribu yang ditempel di dinding."

Ucup diam lama.

Terus dia ambil satu gambar dari map-nya. Gambar paling bagus. Gambar masjid dengan tulisan besar di bawahnya.

Tulisannya: ALHAMDULILLAH.

Dia kasih ke Pak Yai.

"Buat pondok, Yai. Alhamdulillah."

Cuma sekali.

Tapi Pak Yai ngerti. Itu khutbah Jum'at terbaik yang pernah Ucup sampaikan.

Dan tembok pondok yang tadinya kosong, sekarang ada gambar masjidnya.

Bagus.

Komentar

Postingan Populer