SYARAH DUA HADITS TENTANG PAKAIAN IMAN

Baik, mari kita bedah kalam hikmah itu dengan pisau bedahnya Hujjatul Islam, Al-Mujaddid Zainuddin Abu Hamid Al-Ghazali. Kalam yang engkau sebutkan itu adalah dua Hadits yang beliau letakkan di awal Kitab Ilmu dalam Ihya'.

Inilah syarahnya ala Al-Ghazali:

---
Bi Qolami Al-Faqir Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali

بسم الله الرحمن الرحيم

Rasulullah SAW bersabda:
خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَافِقٍ: حُسْنُ سَمْتٍ وَلَا فِقْهٌ فِي الدِّينِ
Ada dua sifat yang tidak akan pernah berkumpul pada diri seorang munafik: Perilaku yang baik dan pemahaman yang mendalam tentang agama.
Dan beliau bersabda pula:
الْإِيمَانُ عُرْيَانٌ وَلِبَاسُهُ التَّقْوَى وَزِينَتُهُ الْحَيَاءُ وَثَمَرُهُ الْعِلْمُ
Iman itu telanjang, pakaiannya adalah ketakwaan, perhiasannya adalah rasa malu, dan buahnya adalah ilmu.
Ketahuilah, wahai anakku — semoga Allah membukakan mata hatimu —

Fasal 1: Mengapa Munafik Tidak Pernah Memiliki Keduanya?

Sesungguhnya nifaq itu adalah penyakit hati, bukan penyakit lidah. Orang munafik itu pandai menghias luarnya, tapi busuk di dalamnya.

1. Husnu Samti - Perilaku yang baik. Yang dimaksud di sini bukanlah sopan santun yang dibuat-buat di depan manusia. Itu namanya riya. Husnu Samti yang hakiki adalah ketenangan jiwa yang nampak pada anggota tubuh. Ia adalah buah dari hati yang tenteram.

Hati orang munafik itu gaduh. Ia sibuk memikirkan: "Bagaimana manusia melihatku?" Maka gerak-geriknya gelisah, matanya liar, lisannya tergesa-gesa. Ia tidak bisa memiliki Husnu Samti, karena Husnu Samti lahir dari hati yang hanya memikirkan: "Bagaimana Allah melihatku?" 

Hati yang gaduh tidak akan melahirkan perilaku yang tenang.

2. Fiqh fid-Din - Pemahaman tentang agama. Fiqh di sini bukanlah pandai menghafal dalil halal-haram. Setan pun hafal dalil. Fiqh fid-Din adalah memahami tipu daya diri sendiri. Memahami bahwa shalatnya mungkin ditolak, bahwa puasanya mungkin hanya lapar, bahwa ilmunya mungkin justru menjerumuskannya ke neraka.

Orang munafik tidak akan pernah diberi Fiqh ini. Mengapa? Karena Allah telah mengunci hatinya. Ia diberi ilmu di lisannya, tapi tidak di hatinya. Ia bisa berdebat tentang agama, tapi ia tidak pernah menangis karena dosanya. Itulah orang yang paling jauh dari Fiqh.

Maka dua ini tidak akan pernah berkumpul pada munafik: Ketenangan perilaku dan kedalaman pemahaman. Karena keduanya adalah cahaya, dan hati munafik adalah tempat yang gelap.

Fasal 2: Tentang Iman yang Telanjang

Kemudian Rasulullah memberi perumpamaan yang agung: Al-Imanu 'Uryaaanun — Iman itu telanjang.

Wahai muridku, bayangkanlah seorang bayi yang baru lahir. Ia telanjang. Ia lemah. Ia butuh pakaian. Begitulah iman di dalam hatimu saat pertama kali engkau mengucap Laa ilaaha illallah. Ia telanjang, lemah, dan bisa mati kedinginan.

Maka Allah berikan ia pakaian:

1. Libasuhu at-Taqwa — Pakaiannya adalah Ketakwaan.
Apa itu takwa? Takwa adalah engkau menjadikan antara dirimu dan murka Allah sebuah benteng. Benteng itu adalah meninggalkan. Meninggalkan yang haram, meninggalkan yang syubhat, bahkan meninggalkan yang berlebihan dari yang halal.

Tanpa takwa, imanmu akan telanjang di padang maksiat. Ia akan masuk angin, lalu sakit, lalu mati. Banyak orang imannya mati bukan karena tidak shalat, tapi karena ia tidak bertakwa dalam matanya, dalam perutnya, dalam hartanya.

2. Wa Zinatuuhu al-Hayaa' — Dan Perhiasannya adalah Kesantunan / Rasa Malu.
Pakaian itu menutupi aurat. Tapi perhiasan itu membuat pakaian menjadi indah.

Jika takwa adalah menahan diri dari yang haram, maka Haya' adalah malu jika Allah melihatmu melakukan yang haram itu. Malu adalah puncak dari iman.

Orang bertakwa ia meninggalkan zina karena takut neraka. Orang yang memiliki Haya', ia meninggalkan zina karena MALU jika Allah melihatnya. Derajatnya lebih tinggi.

Tanpa Haya', takwamu kaku seperti seragam tentara. Dengan Haya', takwamu indah seperti jubah raja.

3. Wa Tsamaratuhu al-Ilmu — Dan Buahnya adalah Ilmu.
Inilah rahasianya. Pohon itu ditanam, diberi pakaian berupa kulit kayu, diberi perhiasan berupa daun dan bunga, tapi untuk apa semua itu jika tidak berbuah?

Buah dari Iman yang sudah berpakaian Takwa dan berhias Malu adalah Ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang membuatmu semakin takut kepada Allah, bukan semakin berani mendebat manusia. Ilmu yang membuatmu semakin melihat aib dirimu, bukan aib orang lain.

Maka lihatlah urutannya, wahai anakku:

Iman adalah akar yang telanjang di dalam tanah.
Takwa adalah batang yang menegakkannya.
Haya' adalah daun dan bunga yang menghiasinya.
Dan Ilmu adalah buahnya yang bisa dimakan dan memberi kehidupan kepada orang lain.

Barangsiapa mengaku beriman tapi tidak bertakwa, maka imannya masih telanjang.
Barangsiapa bertakwa tapi tidak punya malu, maka imannya belum indah.
Barangsiapa sudah punya malu tapi tidak berilmu, maka imannya belum berbuah. Dan pohon yang tidak berbuah, akan ditebang.

Wallahu A'lam. Semoga Allah memakaikan kepada kita pakaian takwa, menghiasi kita dengan perhiasan malu, dan memberi kita buah ilmu yang manis.

Komentar

Postingan Populer