UCUP, JONO, DAN SEBUAH NIAT
BAB 1 : NIAT
Aku adalah Cecep Muhammad. Dan sore itu, Ucup sedang resah.
"Cecep," katanya sambil menatap kopi yang sudah dingin, "Aku sudah sholat, sudah ngaji, sudah berbuat baik. Tapi kenapa rasanya kosong ya?"
Jono yang dari tadi mainin sedotan langsung nyaut, "Mungkin karena kopinya kosong, Cup. Coba diisi lagi."
Aku menatap Ucup. Ini adalah momen yang serius. Ucup yang biasanya serius, kali ini seriusnya level 2.
"Begini, Cup," kataku. "Guru ngaji ku dulu pernah bilang satu hadits. Pendek. Tapi kalau dipikirin, dalamnya kayak Sumur Bandung."
Hadits apa? Jono langsung siap mencatat, padahal dia kalau disuruh ngafalin Pancasila aja masih mikir.
Aku bilang pelan-pelan:
"Innamal a'malu binniyat. Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya."
Ucup mengernyit. "Maksudnya?"
"Maksudnya gini," kataku, sambil meniru gaya Pidi Baiq kalau lagi menjelaskan sesuatu yang sederhana tapi dibikin rumit dulu biar keren.
"Kamu lihat Jono minum kopi ini?"
Jono mengangguk.
"Kalau Jono minum kopi ini niatnya biar melek buat ngerjain skripsi, maka pahalanya jadi belajar. Tapi kalau Jono minum kopi ini niatnya biar keliatan keren di depan Bi Iroh, ya dapatnya cuma keliatan keren aja. Kopinya sama, rasanya sama, pahitnya sama, tapi nilainya beda. Karena niatnya beda."
Jono melongo. "Anjir, dalam."
Ucup langsung paham. "Jadi selama ini aku berbuat baik karena ingin dipuji orang, makanya kosong?"
"Ya. Karena kamu hijrahnya bukan karena Allah, tapi karena Desi," celetuk Jono.
"Desi lagi?"
Aku melanjutkan haditsnya:
"Wa innama likullimri-in ma nawa. Dan setiap orang akan dapat sesuai apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju."
Sore itu hening.
Bukan karena kami semua tiba-tiba alim. Tapi karena kami bertiga baru sadar, bahwa selama ini kami sering salah menaruh niat.
Jono menatap kopinya dalam-dalam. Lalu dia berdoa dalam hati. Kali ini niatnya bukan biar keren.
Tapi biar kopi ini jadi tenaga untuk jadi manusia yang lebih baik besok.
Dan Bi Iroh yang dari tadi nguping dari belakang bilang, "Nah gitu. Kalau niatnya baik, bayarnya juga yang baik ya, jangan satu kopi buat bertiga lagi."
Kami bertiga tertawa.
Dan disitulah, Bab Niat itu selesai.
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih