Santri
Menurut Imam Ghazali
Menurut Hujjatul Islam Zainuddin Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (1058-1111 M), istilah yang kita kenal sekarang sebagai Santri beliau sebut dengan Al-Walad, Thalibul Ilmi, dan Al-Muhib - murid kesayangan.Beliau tidak menulis definisi kamus tentang santri, tapi definisi itu hidup dalam kisah lahirnya kitab beliau yang paling masyhur di pesantren: Kitab Ayyuhal Walad / Wahai Anakku.
1. Asal kisahnya
Ketahuilah bahwa salah seorang santri terdahulu mengabdikan dirinya kepada as-Syaikh al-Imam Zain ad-Din Hujjah al-Islam Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali... Ia menyibukkan diri meraih dan membaca ilmu pada al-Imam sehingga menghimpun daqaiq (kedalaman) ilmu dan menyempurnakan keutamaan jiwa.
Dalam riwayat lain disebutkan:
Buku kecil yang berjudul 'Ayyuhal Walad' ini adalah sebuah kitab monumental yang ditulis oleh Imam Al-Ghazzali sebagai nasihat untuk seorang santri kesayangannya. Konon, ada seorang santri Imam Al-Ghazzali yang lama mengabdi dan berkhidmat kepada beliau hingga... dia telah mengkhatamkan kitab Ihya' Ulumuddin karya terbaik gurunya dan memiliki kekuatan ruhiyah di atas rata-rata
Santri itu gelisah: ilmunya sudah banyak, tapi takut tidak bermanfaat. Lalu ia menulis surat minta nasihat yang benar-benar bermanfaat untuk bekal hidup. Dari surat itulah Al-Ghazali menjawab dengan kitab Ayyuhal Walad.
Jadi bagi Al-Ghazali, santri bukan hanya orang yang lama belajar, tapi orang yang resah apakah ilmunya bermanfaat di sisi Allah.
2. Ciri Santri ideal menurut Al-Ghazali
Dari Ayyuhal Walad, Ihya Ulumuddin, Bidayatul Hidayah, dan Minhajul Abidin, para ulama pesantren menyarikan 5 pilar santri ala Al-Ghazali:
a. Niatnya adalah Tazkiyatun Nafs
Santri menuntut ilmu bukan untuk debat, pamer, atau mencari perhatian manusia. Dalam pesantren ini diimplementasikan sebagai tazkiyatun nafs, tarbiyatul akhlaq, dan dzikir dalam keseharian. Al-Ghazali mengingatkan: Al-ilmu bila 'amalin majnun - ilmu tanpa amal itu kegilaan.
b. Tawadhu adalah gerbang ilmu
Menurut teori Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, akar dari hilangnya tawadhu adalah kesombongan (kibr) yang muncul dari perasaan lebih unggul dibanding orang lain
Karena itu beliau mengajarkan: Murid tidak boleh mendebat Sang Mursyid - menghormati guru secara lahir tidak berdebat, secara batin tidak mengingkari perintahnya.
c. Adab sebelum ilmu
Santri ideal menurut beliau melaksanakan:
Membudayakan Akhlakul Karimah, doa bersama, baca Al-Qur'an, shalat berjamaah
Hidup sederhana dalam berpakaian, perkataan, dan perbuatan, karena ketenangan hati datang dari hidup sederhana tanpa hasrat mencari perhatian manusia.
d. Waktunya untuk ibadah
Nasihat pertamanya di Ayyuhal Walad:
Sesungguhnya jika ada seseorang waktu-waktu berlalu dari umurnya dan waktunya tidak digunakan dengan baik, maka pantas panjang penyesalannya.
Tanda Allah berpaling dari seorang hamba adalah ia disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Karena itu santri harus meninggalkan 4 perkara: debat tanpa kebenaran, menjadi tukang nasihat tanpa amal, berteman dengan orang tamak, dll.
e. Ilmu harus berbuah amal
Cintailah semua yang dicintai Allah walaupun kamu membencinya, dan bencilah semua yang dibenci Allah walaupun kamu mencintainya.
Inilah ringkasan definisi santri ala Al-Ghazali: Anak ruhani (walad) yang mengabdi lama kepada guru, menguasai ilmu lahir batin, lalu dengan kerendahan hati (tawadhu) meminta jalan agar ilmunya menjadi ilmu nafi' - ilmu yang bermanfaat, yang membersihkan hati dan mengantarkan kepada Allah, bukan sekedar tumpukan kitab.
Di pesantren Nusantara, itulah mengapa santri Lirboyo, Tebuireng, dan pesantren lainnya tetap mengkaji Ihya Ulumuddin selama bertahun-tahun - karena mereka melihat diri mereka sebagai kelanjutan dari santri penanya dalam Ayyuhal Walad tersebut.
Menurut Ibnu Khaldun
Kalau Al-Ghazali menyebut santri sebagai Walad - anak ruhani, maka Ibnu Khaldun (1332-1406 M) dalam Muqaddimah menyebutnya sebagai Muta'allim / Thalibul Ilm dan menjelaskannya lewat teori Malakah.
Ibnu Khaldun tidak memberi definisi santri secara harfiah - karena kata santri itu khas Nusantara - tapi beliau memberi kerangka bagaimana seharusnya santri itu dibentuk.
1. Definisi Pendidikan menurut Ibnu Khaldun
Menurut Ibnu Khaldun, pendidikan adalah proses mentransformasikan nilai-nilai dari pengalaman seseorang untuk mempertahankan eksistensinya dalam berbagai bentuk kebudayaan serta zaman yang terus berkembang.
Barangsiapa yang tidak dididik oleh kedua orang tuanya, maka ia akan dididik oleh zaman
Artinya santri bukan sekedar orang yang tinggal di pondok. Santri adalah manusia yang sedang mengalami proses transformasi budaya - dari kejahilan menuju keadaban melalui pengalaman.
2. Tujuan Santri menurut Ibnu Khaldun
Berbeda dengan pandangan yang menyamakan santri = patuh total.
Ibnu Khaldun dalam magnum opus-nya, Al-Muqaddimah, menyatakan bahwa pendidikan yang baik tidak bertujuan melahirkan kepatuhan yang pasif (al-inqiyad al-a'ma), tetapi membentuk manusia yang memiliki nalar, keberanian moral, dan tanggung jawab sosial.
Santri perlu dididik menjadi pribadi yang santun dan hormat (ta’zhim) kepada guru, tetapi memiliki kemampuan untuk menyampaikan keberatan ketika menghadapi tindakan yang bertentangan dengan agama, hukum, maupun etika.
Jadi santri ideal Ibnu Khaldun itu: santun tapi kritis.
3. Konsep Kunci: Malakah
Untuk mencapai itu, santri harus mencapai malakah - penguasaan sempurna yang menjadi kebiasaan jiwa, bukan hafalan sementara.
Caranya:
a. Tadarruj (bertahap) - tidak diberikan sekaligus, melainkan diberikan secara bertahap dari yang sederhana sampai yang kompleks
b. Tanpa kekerasan
Pendidikan yang efektif, menurut Ibnu Khaldun, harus didasarkan pada kasih sayang, pengertian, dan kesabaran, bukan pada pemaksaan atau kekerasan.
Siapa yang terbiasa dididik dengan kekerasan diantara murid-murid atau pembantu, ia akan dipengaruhi oleh kekerasan, merasa sempit hati, pemalas, dan menyebabkan ia berdusta serta melakukan yang buruk-buruk karena takut
Kekerasan dalam pendidikan membahayakan pelajar terutama pelajar pada usia anak karena kekerasan dalam mendidik merupakan bagian dari tabiat buruk
Kalau Al-Ghazali menekankan tazkiyatun nafs - penyucian jiwa, maka Ibnu Khaldun menekankan pembentukan akal dan kemandirian sosial.
Ringkasan bedanya:
Al-Ghazali: Santri = pencari ilmu bermanfaat untuk akhirat, kuncinya tawadhu dan amal.
Ibnu Khaldun: Santri = manusia yang sedang membangun malakah (keahlian) melalui proses budaya yang manusiawi, rasional, tanpa kekerasan, agar mampu mempertahankan eksistensi dan memberi pekerjaan / peran bagi masyarakat.
Menurut Gus Dur
Kalau Imam Al-Ghazali bilang santri itu walad - anak ruhani, dan Ibnu Khaldun bilang santri itu pembangun malakah, maka KH Abdurrahman Wahid - Gus Dur bilang santri itu agen perubahan yang kosmopolitan.
Gus Dur sendiri secara teknis mendefinisikan sangat sederhana:
Abdurrahman Wahid, mendefinisikan pesantren secara teknis, pesantren adalah tempat di mana santri tinggal.
Tapi dari definisi teknis itu, beliau membangun definisi yang paling terkenal sampai sekarang:
1. Santri bukan mesin penghafal
Gus Dur menegaskan bahwa santri (baca: peserta didik) agar tidak berhenti pada penguasaan materi pembelajaran semata. Akan tetapi lebih dikembangkan lagi agar dapat menggali potensi diri untuk mengemban misi menjadi agent of change sekaligus go public.
Menurut Gus Dur, peserta didik seringkali dijadikan agaknya seperti mesin yang tidak mampu menggali hakikat pendidikan itu sendiri. Materi pembelajaran harus dicerna oleh peserta didik sebanyak mungkin tanpa mempertimbangkan paradigma pembelajaran yang berkembang sesuai realitas.
Jadi santri = bukan yang paling banyak khatam kitab, tapi yang mampu mencerna realitas.
2. Santri adalah problem solver lingkungan
Ini definisi Gus Dur yang paling dikutip di buku Islamku, Islam Kita, Islam Anda:
Menurut Gus Dur, pesantren adalah lembaga yang mampu mengadaptasikan gairah belajar dengan lingkungan sekitar. Para santri tidak hanya dituntut untuk memahami makna yang tertera dalam tumpukan kertas, melainkan turut serta menyelesaikan konflik rumit di lingkungan sekitar
Maka tugas santri adalah menjalankan misi kesejahteraan beragama dalam kehidupan sosial yang harmonis, dan mengantarkan umat menuju taraf kehidupan yang ideal.
3. Ciri-ciri santri ala Gus Dur
Dari tulisan-tulisan Gus Dur di era 1980-an, ada 4 ciri yang beliau tekankan:
a. Kemandirian (Self-reliance)
Menurut K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kemandirian pesantren (termasuk santrinya) berakar pada nilai self-reliance atau tidak bergantung pada bantuan luar.
b. Ikhlas, Tawakkal, dan Fleksibel
Bentuk lain dari pandangan ini, menurut Gus Dur, adalah kesediaan yang tulus untuk menerima apa saja kadar yang diberikan oleh kehidupan, terutama bila dipandang dari sudut kehidupan material, asalkan pandangan ukhrawi sejauh mungkin dapat dipuaskan... Ciri lainnya adalah fleksibilitas para santri
c. Toleran dan Moderat
Gus Dur menginginkan pesantren mendidik generasi agar memiliki pemahaman agama yang benar, dan juga mampu bersikap toleran dan menghargai perbedaan dalam masyarakat.
d. Santri Kosmopolitan
Istilah yang dipakai UIN Gus Dur Pekalongan untuk menggambarkan pemikiran beliau:
representasi ‘santri kosmopolitan’, yaitu seorang yang berakar dari pesantren namun berwawasan global... membangun lahirnya pemahaman Islam yang moderat, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan
Kesimpulannya menurut Gus Dur:
Kalau ditanya apa itu santri, jawaban Gus Dur tidak akan berhenti di sarung dan kitab kuning.
Santri adalah orang yang tinggal di pesantren, tapi jiwanya tidak tinggal di pesantren saja. Ia berakar kuat pada tradisi (turats), tapi cabangnya menjangkau masalah sosial paling ruwet - dari konflik tanah, kemiskinan, sampai demokrasi.
Itu sebabnya Gus Dur pada era 1980-an membalikkan stigma:
Istilah “santri” seringkali diidentikkan dengan hal-hal yang berbau kolot, terbelakang, tradisional... Tapi seiring dengan gebrakan yang diinisiasi oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada era 1980-an, klaim-klaim seperti di atas lama kelamaan luntur
Santri bagi Gus Dur adalah tradisionalis yang paling modern.
Malang, 20 Oktober 2026
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih