SAKINAH: CATATAN HAMID BIN MUHAMMAD
Novel mawaddah ala Pidi Baiq
Keterangan: Tentang Imam Abu Hamid
Sebelum ada Hamid yang jualan telur asin di Brebes, ada Hamid yang lain.
Namanya lengkap: Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi.
Orang manggilnya Imam Al-Ghazali. Lahir tahun 1058 di Thus, sebuah desa kecil di pinggiran Iran. Bapaknya tukang tenun wol. Miskin. Tapi miskin yang rajin berdoa, katanya: "Ya Allah, beri aku anak yang jadi ulama, bukan jadi tukang tenun seperti aku."
Doanya dikabulin. Kelewat dikabulin.
Hamid yang ini pinter banget. Umur 28 sudah jadi profesor paling terkenal di Universitas Nizhamiyah Baghdad. Kayak kalau sekarang jadi dosen di Harvard umur 28. Muridnya ribuan. Semua orang tepuk tangan.
Terus tiba-tiba, dia hilang.
Bukan hilang diculik. Hilang karena krisis. Di puncak karier, dia ngerasa semua ilmunya palsu. Dia ngajar orang tentang Allah, tapi dia sendiri lupa rasanya dekat sama Allah. Jadi dia tinggalin semua: jabatan, gaji gede, jas bagus. Dia pergi jadi pengembara. Pakai baju compang-camping. Tinggal di Damaskus, ngumpet di menara masjid, nyapu masjid.
Sepuluh tahun dia hilang begitu. Lalu dia pulang bawa satu buku: Ihya Ulumuddin. Artinya, menghidupkan ilmu agama yang sudah mati di hati.
Di dalam buku itu, ada satu bab kecil yang judulnya: Kitab Adabun Nikah. Bab tentang pernikahan.
Kata Imam Al-Ghazali, menikah itu bukan untuk mencari orang yang sempurna. Menikah itu untuk mencari teman untuk memperbaiki diri yang tidak sempurna.
Dan dari bab kecil itulah, cerita ini dimulai.
Bukan di Baghdad tahun 1058. Tapi di Brebes, tahun 2026.
---
BAB 1 - SAKINAH
Namaku Sakinah.
Iya, seperti di undangan. Sakinah. Orang tua memberiku nama itu supaya aku jadi penenang. Kenyataannya, aku lebih sering jadi perusuh.
Aku kuliah di Tegal, jurusan yang tidak ada hubungannya dengan ketenangan. Aku suka ngomong keras, ketawa keras, dan kalau marah, masakanku jadi asin semua.
Lalu ada Hamid.
Hamid bin Muhammad bin Muhammad. Bukan Al-Ghazali. Hamid yang ini anak penjual bawang merah di Pasar Induk Brebes. Kulitnya agak gosong karena sering di sawah. Tapi kalau ngomong, bahasanya seperti habis baca Ihya 4 jilid.
Kami ketemu di perpustakaan daerah. Aku lagi cari novel Dilan. Dia lagi baca Ihya.
"Aku cari Dilan 1990," kataku.
Dia menjawab tanpa ngangkat kepala, "Dilan itu fana. Al-Ghazali itu baqa."
Aku pengen jitak. Tapi anehnya, aku duduk di sebelahnya.
Hamid tidak pernah bilang "Aku cinta kamu" seperti Dilan bilang ke Milea, "Milea, kamu cantik, tapi aku belum mandi."
Hamid bilang, "Sakinah, kalau kamu di dekatku, hatiku jadi sukun. Sukun itu tenang. Seperti setelah wudhu."
Aku bilang, "Kamu gombalnya pakai bahasa Arab, ya?"
Dia bilang, "Tidak. Pakai bahasa Qur'an. Surat Ar-Rum ayat 21. Litaskunu ilaiha. Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya."
Dan sialnya, aku tenteram. Padahal AC perpustakaan mati.
Sakinah, kata Imam Al-Ghazali, adalah pekerjaan pertama dalam pernikahan. Sakinah bukan berarti tidak ada masalah. Sakinah berarti, masalahnya tetap ada, tapi kita sudah tidak pengen lari dari rumah.
Rumah kami nanti, kata Hamid, tidak usah bagus. Cukup ada dua sajadah yang tidak pernah digulung. Karena kalau sajadah selalu digelar, berarti kita selalu ingat untuk pulang, bukan cuma ke rumah, tapi ke Allah.
Aku setuju. Walaupun aku belum tahu cara lipat sajadah yang benar.
BAB 2 - MAWADDAH
Setelah menikah, mawaddah itu datang.
Mawaddah itu apa? Kata Imam Al-Ghazali di Ihya, mawaddah itu cinta yang ada usahanya. Cinta yang capek. Cinta yang berkeringat.
Kalau Sakinah itu diam, Mawaddah itu berisik. Kayak suara wajan ketika aku masak telur dadar keasinan lagi.
Mawaddah ala Brebes itu tidak seperti di film.
Mawaddah adalah ketika Hamid tahu aku benci bau bawang, tapi setiap pulang dari pasar, tangannya tetap bau bawang. Jadi dia cuci tangan pakai sabun tiga kali sebelum salim.
Mawaddah adalah ketika aku tahu dia benci pare, tapi aku tetap masak pare, karena kata Ibu, pare itu baik untuk darah tinggi. Dia makan. Sambil bilang, "Pahitnya pare ini mengingatkanku pada pahitnya mencari ilmu, jadi aku harus telan."
Mukanya seperti mau nangis. Aku ketawa sampai perut sakit.
Suatu hari, dia pulang bawa kresek hitam. Aku kira isinya martabak keju.
Ternyata isinya sendal jepit swallow. Warna pink. Ukuran 38.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Sendalmu kan putus kemarin waktu ngejar ayam tetangga," katanya. "Ini mawaddah. 15 ribu. Murah, tapi kamu pakai tiap hari ke warung. Cinta yang mahal kan gampang, Kin. Yang murah tapi kepake terus itu yang susah."
Aku pakai sendal itu sampai sekarang. Putus lagi, aku lem pakai lem Korea.
Pidi Baiq pernah nulis: "Jangan rindu, berat, kamu nggak akan kuat, biar aku saja."
Kalau Hamid, dia nulis di kertas bon bawang: "Jangan marah, berat, kamu gak akan kuat, biar aku saja yang minta maaf duluan, walaupun yang salah kamu."
Kurang ajar. Tapi aku simpen bon-nya.
BAB 3 - WARROHMAH
Warrohmah itu datang belakangan. Tidak diundang. Tiba-tiba ada.
Warrohmah datang waktu Bapaknya Hamid meninggal.
Hamid tidak nangis kencang. Dia cuma duduk di teras. Dari Maghrib sampai Isya. Memandang pohon bawang yang belum dipanen.
Aku tidak tanya apa-apa. Aku cuma bikin teh. Dingin. Aku bikin lagi. Dingin lagi. Sampai tiga kali.
Akhirnya dia ngomong pelan.
"Imam Al-Ghazali bilang, Kin, di dalam Ihya... kenapa di ayat itu Allah bilang mawaddah dulu baru rahmah?"
"Kenapa?"
"Karena mawaddah itu untuk mencintai kelebihan pasangan. Rahmah itu untuk mencintai kekurangannya. Waktu kita masih muda, kita butuh mawaddah. Waktu kita sudah tua, sakit, dan sudah tidak menarik lagi, kita cuma butuh rahmah."
Malam itu aku peluk dia. Bukan peluk Dilan-Milea. Peluk yang capek dan bau bawang.
Besoknya, dia ambil spidol permanen. Yang hitam. Yang tidak bisa dihapus.
Dia tulis di tembok ruang tamu kami yang masih plester kasar. Tulisannya besar-besar, miring-miring, seperti tulisan anak SD.
Dia tulis:
Sakinah = Aku tenang karena Allah, bukan karena kamu sempurna.
Warahmah = Aku tetap di sini, bahkan ketika kamu sudah tidak menarik lagi untuk dicintai.
Aku marah. "Hamid! Temboknya kotor! Ini rumah, bukan mading pesantren!"
Dia bilang, "Biarin. Biar permanen. Seperti doa. Kalau catnya bisa luntur, doanya jangan."
Sekarang, setiap orang yang main ke rumah kami - tukang telur asin, ibu-ibu pengajian, anak TPQ - pasti baca tembok itu. Mereka ketawa dulu. Terus diam. Terus waktu pulang, mereka gandengan sama pasangannya agak lebih erat.
Kata Hamid, itu namanya dakwah lewat tembok.
Aku Sakinah. Dia Hamid bin Muhammad.
Kami bukan keluarga sempurna. Kami keluarga yang sedang belajar menghidupkan ilmu agama yang sudah mati di hati kami sendiri, seperti yang dilakukan Imam Hamid yang dulu di Thus.
Kami masih berantem soal siapa cuci piring.
Tapi piringnya tetap kami cuci berdua.
Dan mungkin, itu yang disebut keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah ala Pidi Baiq dan ala Imam Al-Ghazali.
Tidak banyak puisi.
Tapi banyak sendal jepit, telur asin, bawang merah, dan spidol permanen yang tidak bisa dihapus.
- TAMAT -
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih