Ya Allah Ya Qadim
Dalam Kitab Sirr al-Asrar fima Yahtaju Ilaih al-Abrar karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pertanyaan "mana Allah mana Muhammad" adalah inti dari pelajaran Tauhid.

Judulnya saja Sirrul Asrar = Rahasia di atas rahasia. Kitab ini terdiri dari 24 fasal sesuai jumlah huruf La ilaha illallah Muhammad Rasulullah dan 24 jam sehari semalam. Tujuannya menjelaskan syariat, tarekat, dan hakikat agar tidak salah menempatkan kedudukan Khaliq dan makhluk.
1. Prinsip Dasarnya: Allah itu Qadim, Muhammad itu Muhdats (ciptaan pertama)
Di dalam Sirrul Asrar dijelaskan:
Ciptaan yang pertama kali ada adalah Ruh Muhammad. Dasarnya hadis qudsi "Khalaqtu Muhammadan awwalan min nuri wajhi - Aku menciptakan Muhammad dari cahaya wajah-Ku"
Ruh ini punya 4 nama tapi hakikatnya satu, yang disebut al-Haqiqah al-Muhammadiyah:
Ruh Muhammad
Nur Muhammad (cahaya)
Al-Qalam (pena yang menulis takdir)
Al-Aql (akal)
Keempatnya pada dasarnya satu yakni Hakikat Muhammad.
Ini adalah istilah untuk menggambarkan awal mula penciptaan.
Jadi pembedanya jelas:
Allah adalah Wajibul Wujud, Al-Khaliq, tidak berawal dan tidak berakhir. Dalam bahasa Sirrul Asrar disebut martabat Ahadiyah / La Ta'ayyun - martabat dimana hanya Allah tanpa ada sesuatu pun bersama-Nya.
Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan dari Nur Allah. Dia bukan Allah, tapi ciptaan Allah yang paling awal dan paling mulia. Dari Nur Muhammad inilah kemudian Arasy dan semua ruh makhluk hidup muncul.
2. Mana Allah, Mana Muhammad di Dalam Diri Manusia
Syekh menjelaskan penurunan Hakikat Muhammad ini melalui 4 alam:
Lahut -> Jabarut -> Malakut -> Mulki
Alam Lahut adalah negeri asal, tempat Ruh Muhammad berada setelah 4000 tahun dari penciptaannya. Ini adalah alam ketuhanan murni, milik Allah.
Ruh Muhammad kemudian diturunkan melewati Jabarut, Malakut, sampai ke alam Mulki (alam jasad kita sekarang).
Misi penurunannya adalah agar semua potensi tadi bisa kembali ke negeri asal di alam Lahut. Inilah makna Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Untuk memahami mana Allah mana Muhammad di diri kita, Syekh memberi rumus:
Allah itu yang Maha Hidup, selain-Nya hanya berstatus pinjaman hidup dari Allah
Praktiknya dalam dzikir Sirrul Asrar:
Yang Hidup, Yang Berkuasa, Yang Berkehendak, Yang Mendengar, Melihat itu sifat Allah. Kita hanya dipinjami.
Muhammad (hamba) adalah yang menyadari bahwa dia tidak punya apa-apa, dia adalah penerima, yang mati sebelum mati, yang fana.
Kalau dalam kalimat tauhid: La ilaha illallah itu adalah sisi Allah (Lahut), Muhammad Rasulullah itu adalah sisi hamba yang menjadi utusan dan jalan kembali.
3. Kesalahan Fatal yang Diingatkan
Sirrul Asrar sangat keras melarang mencampuradukkan keduanya (hulul atau ittihad).
Banyak orang awam salah paham mengira karena semua dari Nur Muhammad lalu Muhammad = Allah. Syekh menjelaskan tidak:
Allah itu Sirrul Asrar - Rahasia di atas rahasia, Dia adalah Sumber. Sedangkan Hakikat Muhammad adalah rahasia yang diciptakan untuk menjadi perantara (wasilah) antara fisik, nafsu dan ruh agar bisa merasakan kedekatan dengan Allah.
Ibaratnya:
Allah = Matahari
Nur Muhammad = Cahaya pertama yang keluar dari Matahari, dari cahaya itulah semua lampu-lampu lain (makhluk) menyala. Cahaya itu bukan Mataharinya, tapi bukti adanya Matahari.
Maka perjalanan ruhani menurut kitab ini adalah dengan dzikir, agar akhlak ketuhanan kembali muncul. Apabila prosesnya berjalan dengan baik, maka seorang manusia akan mendapatkan akhlak yang agung, yaitu akhlak ketuhanan.
Intinya: Kenali Muhammad sebagai jalanmu, kenali Allah sebagai tujuanmu. Jangan sembah jalan, sembahlah Tujuan.
Referensi :
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih