RUMAH YANG DIJAGA DUA PILIHAN
Aku adalah Ilman. Mahasiswa tingkat akhir yang kalau disuruh milih antara ngerjain skripsi dan bikin Ayah Ibu ketawa, aku pasti milih yang kedua. Karena guruku bilang, "Jadilah seperti Nu'aiman, sahabat yang bikin Rasulullah tertawa."
Ayah adalah mantan guru MTK. Prinsip hidupnya: kalau tidak bisa ngasih jawaban benar, lebih baik diam. Jadi di rumah, Ayah adalah pengamal hadits bagian kedua yang paling setia: ...aw liyashmut.
Ibu adalah pengamal bagian pertama: falyaqul khairan. Kata-katanya selalu baik, bahkan saat marah pun baiknya masih ada sisa.
Hadits di kulkas kami ditempel Ibu:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
BAB 1: PROYEK BERKATA BAIK
Aku tahu Ayah capek. Sejak pensiun, Ayah jarang dipuji.
Aku pakai jurus Nu'aiman. Nu'aiman dulu pernah ngasih hadiah ke Rasulullah ﷺ padahal belum dibayar, biar Rasulullah senang dulu.
Pagi itu aku bilang ke Ibu di dapur, agak keras biar Ayah dengar dari ruang tamu.
"Bu, Ayah hebat ya, kemarin benerin kipas angin cuma pakai obeng dan doa."
Padahal Ayah benerinnya 2 jam dan kipasnya malah jadi ada suara adzan.
Ibu yang paham dramaku, jawab keras juga, "Iya, Ibu jadi adem terus liat Ayah."
Ayah di ruang tamu yang dari tadi pura-pura baca koran, dadanya langsung mengembang. Sehari itu Ayah jadi rajin keliling rumah betulin semua yang tidak rusak.
Itu berkata baik. Bukan bohong, tapi memilih melihat kebaikan.
BAB 2: PROYEK DIAM
Sore itu giliran Ibu yang diuji.
Ibu dapat telepon dari tantenya yang suka banding-bandingin anak.
Aku lihat muka Ibu sudah mulai keruh. Tangan kanannya sudah mulai meremas lap piring.
Kalau Ibu jawab, pasti jadi ghibah atau sakit hati.
Aku ingat, Nu'aiman kalau suasana tegang, dia bikin orang tertawa biar tidak jadi dosa.
Aku tiba-tiba masuk dengan muka panik.
"Bu, Ayah! Gawat!"
Ayah dan Ibu kaget. Ibu sampai matikan telepon.
"Kenapa, Man?" tanya Ayah.
"Kucing tetangga masuk lagi, Bu. Dia duduk di atas skripsiku seolah-olah dia pembimbingnya!"
Ibu ngakak. Ayah ngakak. Telepon yang bikin keruh tadi jadi lupa.
Setelah itu Ibu bilang, "Kamu menyelamatkan Ibu dari ngomong yang tidak baik, Man. Terima kasih."
Kata Nabi, kalau tidak bisa berkata baik, diam. Hari itu aku bantu Ibu untuk diam dari yang buruk, dengan cara memberinya alasan untuk tertawa.
BAB 3: TERTAWA SAMPAI SURGA
Malamnya kami bertiga di teras. Ayah cerita lagi tentang Nu'aiman.
"Rasulullah bilang, Nu'aiman akan masuk surga sambil tertawa, karena ia sering membuat Rasulullah tertawa."
Aku tanya, "Yah, aku bisa kayak Nu'aiman gak?"
Ayah menatapku, "Kamu sudah jadi Nu'aiman di rumah ini."
Ibu mengangguk, "Nu'aiman itu bukan pelawak, Man. Dia itu penjaga. Dia jaga agar di sekitar Rasulullah tidak selalu berat. Kamu jaga Ayah dan Ibu agar rumah ini tidak selalu diam atau selalu mengeluh."
Aku terdiam. Itu adalah diam yang baik.
Lalu aku berkata baik, yang paling baik yang aku punya malam itu:
"Yah, Bu, kalau nanti aku sudah tidak di rumah ini lagi, semoga yang tertinggal bukan skripsiku, tapi tawa kita malam ini."
Ayah tidak menjawab. Dia hanya mengusap kepalaku. Ibu tidak menjawab. Dia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Ayah.
Dan kami bertiga diam. Diam yang baik. Diam yang penuh tawa di dalam hati.
Karena di rumah ini, kami akhirnya paham hadits itu:
Ayah menjaganya dengan diamnya.
Ibu menjaganya dengan kata baiknya.
Dan Aku menjaganya dengan tawa ala Nu'aiman.
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih