Rahasia Kesucian Ruhani dan Dua Nasab Manusia

Setiap yang lahir ke dunia dalam keadaan suci.

Inilah rahasia sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”

Maka ketahuilah, wahai salik yang menempuh jalan kembali kepada Allah — kesucian itu bukan hadiah dari ayah dan ibumu, melainkan pemberian langsung dari Al-Quddus. Bayi itu putih bersih seperti cermin yang baru dipoles. Belum ada debu syahwat, belum ada karat hasad, belum ada goresan cinta dunia. Cermin itu memantulkan cahaya langit dengan sempurna.

Manusia bukanlah hanya anak biologis saja.

Jika engkau mengira dirimu hanya anak dari mani ayahmu dan darah ibumu, maka engkau telah menghinakan dirimu sendiri. Jasadmu memang anak biologis, tetapi hakikatmu bukan jasad.

Ala Imam Zainuddin bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Hujjatul Islam, manusia itu memiliki dua kelahiran dan dua nasab:

1. Nasab yang Rendah: Nasab Tanah (Nasab Jasad)
Ini adalah nasabmu dari ayah dan ibu. Darinya engkau mewarisi warna kulit, bentuk wajah, dan darah. Binatang pun memiliki nasab ini. Ayam melahirkan ayam, kambing melahirkan kambing. Jika engkau hanya berhenti di sini, engkau sama dengan hewan ternak, hanya saja engkau hewan yang pandai bicara.

2. Nasab yang Tinggi: Nasab Cahaya (Nasab Ruh)
Dan inilah nasab yang hakiki.

Engkau adalah anak dari apa yang engkau kumpulkan di dalam hatimu. Kata Imam Al-Ghazali dalam Ihya':
Hati itu ibarat sumur, dan setiap panca indra adalah anak sungai yang mengalir ke dalamnya.
Maka perhatikanlah:

Jika gurumu adalah hawa nafsu, engkau adalah anak nafsu.
Jika gurumu adalah dunia, engkau adalah anak dunia.
Jika gurumu adalah setan, engkau adalah anak setan.
Dan jika gurumu adalah ilmu dan dzikir yang menghidupkan hati, maka engkau adalah anak akhirat, anak dari para Nabi dan Shiddiqin.

Manusia itu berjalan di antara dua panggilan. Panggilan dari bawah: "Kemarilah, aku adalah tanah, makanlah, tidurlah, marahlah." Dan panggilan dari atas: "Kemarilah, engkau adalah ruh dari tiupan-Ku, kembalilah kepada-Ku dalam keadaan suci."

Maka tugasmu di dunia bukan sekadar menjaga nasab biologis agar tidak terputus, tetapi menjaga nasab ruhani agar tidak ternoda.

Bagaimana cara menyempurnakan kesucian itu kembali?

Kata Al-Ghazali: Sucikan cermin hatimu dengan tiga hal:

Pertama, dengan mujahadah. Lawan anak sungai yang kotor. Tutup matamu dari yang haram, tutup telingamu dari ghibah, tutup lisanmu dari dusta. Sebab setiap maksiat adalah setitik tinta hitam di atas cermin putih itu.

Kedua, dengan riyadhah. Biasakan hatimu meminum dari sumber yang jernih: Al-Qur'an, ilmu yang bermanfaat, dan duduk bersama orang-orang shalih. Engkau akan menjadi anak dari kebiasaanmu.

Ketiga, dengan muraqabah. Ingatlah selalu bahwa engkau adalah hamba yang akan kembali. Orang yang merasa diawasi oleh Kekasihnya, tidak akan berani mengotori pakaiannya.

Pada akhirnya, manusia akan pulang bukan sebagai anak Fulan bin Fulan, tetapi sebagai:

Apakah ia pulang sebagai Qalbun Salim - hati yang selamat dan masih suci seperti saat ia dilahirkan?

Atau ia pulang sebagai Qalbun Mayyit - hati yang mati, tertimbun oleh nasab dunianya sendiri?
Maka jadilah anak akhirat, dan jangan menjadi anak dunia. Karena setiap anak akan ikut kepada induknya.

Komentar

Postingan Populer