RABI'A: CINTA DI ATAS CINTA
1. Lamaran di Rumah Tanpa Pintu
Basrah sore itu berdebu.
Aku, Hasan al-Bashri, berjalan bersama sahabatku tercinta, Malik bin Dinar dan Tsabit al-Bunani, menuju sebuah rumah di ujung kota yang tidak memiliki pintu. Rumah yang dindingnya hanya dari tanah liat, atapnya dari pelepah kurma, namun dari dalamnya memancar cahaya yang tidak pernah padam.
Di rumah itulah tinggal seorang wanita yang namanya membuat para lelaki shalih menundukkan pandangan karena hormat, bukan karena takut. Rabi'a al-'Adawiyya.
Orang-orang berkata ia miskin. Orang-orang berkata ia sendirian. Padahal ia adalah wanita terkaya di Basrah, karena di hatinya tidak ada siapa-siapa kecuali Allah.
Kami bertiga masuk dengan salam. Rabi'a sedang duduk di atas sajadahnya yang sudah usang. Di hadapannya hanya ada sebuah kendi air dan sepotong roti kering. Wajahnya pucat karena banyak berpuasa, namun matanya... Ya Allah, matanya jernih seperti telaga yang memantulkan cahaya langit.
Setelah lama terdiam, aku memberanikan diri. Aku, Hasan al-Bashri, yang ceramahku didengar ribuan orang di Masjid Basrah, tiba-tiba merasa lidahku kelu di hadapan wanita ini.
"Wahai Rabi'a..." kataku dengan suara yang kutata selembut mungkin, "Pilihlah salah satu di antara kami untuk menjadi suamimu. Demi Allah, pernikahan adalah sunnah Nabi kita, kekasih kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan menikah, ibadah kita menjadi lebih sempurna."
Malik dan Tsabit mengangguk. Kami datang bukan karena kasihan. Kami datang karena cinta dan hormat. Siapa yang tidak ingin menjadikan Rabi'a sebagai pendamping hidup? Wanita yang doanya lebih mustajab dari doa kami.
Rabi'a menatap kami. Tidak ada senyum. Tidak ada tawa. Yang ada hanya air mata yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.
"Wahai Hasan, wahai Malik, wahai Tsabit..." ujarnya lirih, "Apakah kalian mengira aku menolak sunnah Rasulullah? Demi Allah, tidak. Aku mencintai sunnah itu. Tetapi aku adalah seorang wanita yang tidak memiliki dirinya sendiri. Diriku sudah lama aku jual kepada Allah. Bagaimana aku bisa memberikan diriku kepada orang lain, sementara diriku bukan lagi milikku?"
Kami terdiam.
Lalu ia melanjutkan, "Tetapi baiklah. Aku punya enam pertanyaan. Jika kalian bisa menjawabnya, aku akan menikah dengan salah satu di antara kalian."
Hatiku berdesir. Enam pertanyaan. Aku, Hasan al-Bashri, yang hafal ribuan hadits, yang menjadi rujukan para ulama, merasa inilah saatnya aku diuji.
"Bertanyalah, wahai Rabi'a," kataku.
2. Enam Pertanyaan yang Membunuh Cinta Dunia
Rabi'a mengangkat wajahnya. Pertanyaan pertama meluncur, dan seketika membuat darahku berhenti mengalir.
"Wahai Hasan, ketika Allah mengambil kesaksian di Hari Alastu, ketika Allah berfirman, 'Haa-ulaa-i fil jannati wa laa ubaali, wa haa-ulaa-i fin-naari wa laa ubaali — Golongan ini di Surga dan Aku tidak peduli, dan golongan ini di Neraka dan Aku tidak peduli,' termasuk golongan manakah aku?"
Aku terpaku. Bibirku bergetar.
"Aku... aku tidak tahu, wahai Rabi'a."
Ia mengangguk, air matanya jatuh.
"Yang kedua, wahai Hasan. Ketika malaikat meniupkan ruh kepadaku di dalam rahim ibuku, dan mencatat empat perkara: rezekiku, ajalku, amalku, dan apakah aku akan menjadi orang yang sengsara atau bahagia... apakah aku dicatat sebagai orang yang sengsara atau bahagia?"
Hatiku semakin remuk. Aku yang selalu mengajari manusia tentang takdir, ternyata tidak tahu takdir wanita di hadapanku ini.
"Aku tidak tahu."
"Yang ketiga. Ketika kelak Malaikat Maut datang dan dikatakan kepada satu jiwa 'Ya ayyatuhan nafsul muthma'innah, irji'i — Wahai jiwa yang tenang, kembalilah' dan kepada jiwa yang lain dikatakan 'Laa busyra lakumul yaum — Tidak ada kabar gembira bagimu hari ini', termasuk yang manakah aku nanti?"
"Aku tidak tahu, Rabi'a."
"Yang keempat, Hasan. Kuburan itu adalah taman dari taman-taman Surga, atau lubang dari lubang-lubang Neraka. Bagaimana keadaaan kuburku nanti? Apakah ia akan bercahaya atau gelap gulita?"
Suara Rabi'a sudah pecah oleh tangis.
"Aku tidak tahu..."
"Yang kelima. Pada hari ketika Allah menjadikan sebagian wajah putih berseri-seri karena bahagia, dan sebagian wajah hitam kelam karena sengsara... bagaimana wajahku nanti? Apakah ia akan menjadi putih atau hitam?"
Aku tidak sanggup lagi menatapnya. Aku menunduk. Bahuku berguncang.
"Aku tidak tahu, wahai Rabi'a. Demi Allah, aku tidak tahu."
Ia menarik nafas panjang, dan mengajukan pertanyaan terakhirnya. Pertanyaan yang menjadi puncak dari segalanya.
"Yang terakhir, wahai Hasan. Ketika Sang Penyeru di Hari Kiamat memanggil dengan suara yang menggetarkan seluruh langit dan bumi, 'Ketahuilah, Fulan bin Fulan telah berbahagia dengan kebahagiaan yang abadi, dan Fulan bin Fulan telah celaka dengan kecelakaan yang abadi,' termasuk yang manakah namaku akan dipanggil? Apakah namaku akan dipanggil di barisan orang-orang yang bahagia, atau di barisan orang-orang yang celaka?"
Saat itu, bukan hanya aku yang menangis. Malik bin Dinar menangis. Tsabit al-Bunani, lelaki yang terkenal tegar itu, menangis hingga jenggotnya basah.
Kami semua menangis.
3. Jawaban Cinta
Di tengah tangis kami, Rabi'a berkata dengan suara yang begitu lembut, namun menghujam jantung:
"Wahai Hasan... wahai saudara-saudaraku... seorang wanita yang di dalam hatinya masih ada kegelisahan tentang enam perkara besar ini... bagaimana mungkin ia masih memiliki waktu untuk memikirkan tentang pernikahan? Bagaimana mungkin ia masih sempat memikirkan mahar, walimah, dan perhiasan dunia?"
"Demi Allah, aku takut... aku sangat takut jika aku sibuk mencintai makhluk, aku akan melupakan Sang Khalik. Aku takut jika aku sibuk mempersiapkan diri menjadi istri yang cantik di dunia, aku lupa mempersiapkan diri menjadi hamba yang cantik di hadapan Allah di akhirat."
Ia lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan doa yang membuat kami semua merinding, doa yang hingga hari ini masih ditulis dengan tinta emas:
"Ya Allah... Jika aku menyembah-Mu karena takut akan Neraka-Mu, bakarlah aku di dalam Neraka-Mu. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap Surga-Mu, haramkanlah Surga-Mu dariku. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka janganlah Engkau haramkan aku untuk memandang Wajah-Mu yang Mulia."
Kami berdiri. Tidak ada lamaran yang diterima. Tidak ada pernikahan yang terjadi hari itu.
Kami keluar dari rumah tanpa pintu itu sebagai tiga orang lelaki yang baru saja belajar apa arti cinta yang sesungguhnya.
Cinta kami kepada Rabi'a adalah cinta karena ingin memiliki.
Tetapi cinta Rabi'a kepada Allah adalah cinta karena ingin dimiliki sepenuhnya oleh Allah.
Dan di jalan pulang, di bawah langit Basrah yang mulai gelap, aku, Hasan al-Bashri, berbisik kepada Malik dan Tsabit:
"Wahai saudara-saudaraku, wanita inilah guru kita yang sebenarnya. Kita datang untuk melamarnya, justru ia yang melamar kita untuk kembali kepada Allah."
Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi melihat pernikahan hanya sebagai sunnah untuk menyempurnakan separuh agama. Aku melihatnya sebagai amanah besar yang hanya boleh dipikul oleh hati yang sudah tenang dengan enam pertanyaan itu.
Sementara Rabi'a... ia tetap di rumah kecilnya. Sendirian. Namun kesendiriannya adalah kebersamaan yang paling indah bersama Kekasihnya yang tidak pernah meninggalkannya.
Ia tidak menikah dengan manusia.
Karena ia telah menikah dengan cinta kepada Allah.
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih