KUBUR




BAB 1 - Dul

Namanya Dul Kamit.

Orang-orang manggil dia Dul.

Katanya, Dul ini orang baik. 

Sholatnya rajin.
Zakatnya lunas.
Puasanya full, 30 hari. Tanpa bolong. Kecuali pas dia lupa niat. Itu juga dia anggap puasa.

Pokoknya, Dul ini merasa dia sudah aman.

Sudah punya tiket surga. VIP. 

Dia pikir begitu.

BAB 2 - Mati

Lalu, Dul mati.

Ya, mati. Gitu aja. Nggak pake drama. Nggak pake slow motion.

Tiba-tiba dia sudah di dalam kubur.

Gelap.

Sempit.

Sunyi.

Dan dinginnya itu, bukan dingin AC. Dingin yang bikin kamu kangen sama matahari.

Dul bingung.

"Ini di mana?"

"Kosan baru?"

Bukan. Ini kubur.

BAB 3 - Tamu

Lalu datang dua tamu.

Tingginya... ah, aku nggak bisa jelasin. Pokoknya tinggi banget.

Matanya, menyala.

Nggak bawa kue. Nggak bawa karangan bunga.

Bawa palu.

Palu besar. Dari besi.

Dan seperti di hadis yang diceritakan Rasulullah SAW, dan ini hadis shahih, Bukhari no. 1374 — orang yang tidak bisa jawab pertanyaan kubur itu akan dipukul dengan palu itu.

Sekali pukul.

Dul menjerit.

Jeritannya itu, kata Rasulullah, didengar oleh semua makhluk di sekitarnya. Oleh semut. Oleh batu. Oleh pohon mangga di atas kuburnya.

Kecuali dua makhluk: jin dan manusia.

Karena kalau manusia mendengarnya, kata ulama, mereka bisa pingsan semua.

Dul menjerit sampai suaranya habis.

BAB 4 - Protes

Lalu Dul protes.

Ini bagian paling Dilan-nya.

"Malaikat," kata Dul. "Kenapa kamu pukul aku?"

"Aku kan sholat."

"Aku kan zakat."

"Aku kan puasa Ramadan. Aku bahkan ikut bukber 10 kali."

"Kenapa?"

Malaikat itu diam dulu. Lalu menjawab. Dengan jawaban yang tidak ada di buku catatan amal Dul.

BAB 5 - Dua Perkara Kecil

Malaikat bilang begini:

"Dul."

"Sholatmu itu urusanmu sama Allah. Bagus."

"Tapi, ingat nggak, suatu hari..."

"Suatu hari, di jalan Braga. Ada seorang bapak-bapak tua. Bajunya robek. Dia diusir orang. Dia dizalimi. Dia lihat kamu. Dia bilang, 'Tolong saya, Nak'."

"Kamu lihat."

"Kamu dengar."

"Lalu kamu pura-pura main HP."

"Kamu pergi."

"Padahal kamu bisa nolong. Sekadar ngomong, 'Jangan begitu, Pak'. Kamu bisa. Tapi kamu nggak mau."

"Itu satu."

Malaikat lanjut lagi.

"Yang kedua..."

"Kamu kalau kencing, sembarangan."

"Kamu buru-buru."

"Setetes, dua tetes, kamu biarin nempel di celana. Kamu nggak bersihin yang bener."

"Padahal Rasulullah sudah bilang. Ini hadis shahih, Bukhari Muslim. Kebanyakan azab kubur itu karena orang meremehkan air kencing. Nggak istinja dengan benar."

"Kamu anggap kecil."

"Padahal di sisi Allah, tidak ada yang kecil kalau disepelekan terus-menerus."

Dul diam.

Baru kali ini dia diam beneran.

BAB 6 - Pelajaran dari Semar

Kalau di pewayangan, di bagian ini Semar datang.

Semar bilang:

"Le, Dul..."

"Kamu itu rajin ngecat tembok. Tapi pondasinya kamu biarin keropos."

"Sholat itu cat temboknya. Membersihkan diri dari najis itu pondasinya."

"Zakat itu cat temboknya. Menolong orang yang terzalimi itu pondasinya."

"Jangan sampai rumahmu bagus di foto, tapi ambruk pas ada gempa kecil."

Dul nangis.

Tapi nangis di kubur itu sudah telat. Nggak ada tisu.

Epilog - Untuk Kita yang Masih di Atas

Aku nulis ini bukan buat nakut-nakutin kamu.

Aku nulis ini karena aku juga sering kayak Dul.

Sering merasa sudah baik, karena sholatnya sudah, puasanya sudah.

Padahal, aku masih sering cuek kalau lihat orang susah di jalan.

Padahal, aku masih sering buru-buru kalau ke toilet.

Kata Rasulullah, dua hal yang sering dianggap remeh itu, ternyata berat timbangannya di alam kubur.

Jadi, mulai sekarang...

Kalau pipis, yang bersih ya.

Kalau lihat orang dizalimi, kalau kamu bisa bantu, bantulah.

Nggak harus jadi superhero.

Kadang, cukup bilang: "Jangan gitu."

Dan itu sudah dicatat malaikat. Bukan yang bawa palu. Tapi yang bawa buku.

Bandung, 2026.

Selesai.

Komentar

Postingan Populer