"KAMU, ILMU, DAN SURGA YANG JAUH TAPI DEKAT"
1. Abi Hurairah
Aku pernah ketemu sama seorang bapak-bapak di masjid dekat Manahan, Solo.
Waktu itu hujan. Aku lagi duduk, tidak ngapa-ngapain. Bapak itu bilang, "Jangan berhenti belajar."
Aku jawab, "Iya, Pak."
Dia tersenyum. Giginya sudah tidak lengkap. Tapi senyumnya lengkap.
Sejak itu aku mikir, ternyata belajar itu bukan cuma soal nilai. Belajar itu soal jalan pulang.
---
2. Surga itu bukan Google Maps
Namaku Khusaini.
Menurut Mama, nama itu artinya baik. Menurut aku, nama itu susah ditulis waktu SD. Teman-temanku namanya Budi, Agus. Aku, Khusaini. Guru selalu berhenti agak lama waktu absen sampai namaku.
Aku kuliah. Kadang rajin, kadang rajinnya nanti saja.
Dosenku pernah bilang, "Ilmu itu cahaya."
Aku jawab dalam hati, "Kalau gitu, kenapa kosan saya masih gelap kalau lampu mati?"
Tapi aku mengerti maksudnya belakangan.
Kalau kamu tidak tahu jalan, kamu akan nyasar. Kalau kamu punya ilmu, kamu tahu jalan mana yang harus kamu belok, jalan mana yang harus kamu tinggalin.
Kata Rasulullah, lewat Abi Hurairah:
Barangsiapa berjalan mencari ilmu, Allah mudahkan jalannya menuju surga.
Sederhana. Tidak ribet.
Kamu jalan. Kamu cari ilmu. Allah mudahkan kamu ke surga.
Bukan dimudahkan jalannya menuju Puncak, atau menuju mall. Tapi menuju surga.
Aku langsung mikir, enak ya jadi penuntut ilmu. Sekalipun nyasar di dunia, tapi tidak nyasar di akhirat.
---
3. Ikan-Ikan Ikut Mendoakan
Ini bagian yang paling aku suka.
Katanya, kalau kamu jadi orang alim, yang mendoakan kamu itu bukan cuma manusia.
Langit mendoakanmu. Bumi mendoakanmu. Bahkan ikan-ikan yang ada di dalam laut yang dalam, yang tidak pernah lihat Instagram, ikut mendoakanmu.
Coba bayangkan.
Kamu lagi ngaji di Surakarta. Di Samudera Hindia, ada seekor ikan tuna bilang, "Ya Allah, ampunilah si Khusaini yang lagi belajar itu."
Keren, kan?
Aku jadi malu. Aku yang hidup di darat, kadang lupa mendoakan diriku sendiri. Ikan yang hidup di air asin, malah mendoakan aku.
Sejak tahu itu, aku jadi lebih sayang sama ikan. Termasuk ikan goreng di warteg.
---
4. Ulama Itu Pewaris
Aku pernah nanya ke Ayah, "Kenapa ulama disebut pewaris Nabi? Emang Nabi ninggalin warisan apa?"
Ayah jawab, "Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Nabi mewariskan ilmu."
Aku diam.
Waktu kecil aku pikir warisan itu sawah, rumah, atau motor Supra. Ternyata ada warisan yang lebih mahal dari itu: ilmu.
Dan pewarisnya bukan anak kandung Nabi. Pewarisnya adalah siapa saja yang mau belajar.
Termasuk kamu. Termasuk aku. Termasuk tukang parkir yang sambil jaga parkir sambil hafalan.
Surga itu tidak diwariskan lewat KTP. Tapi lewat kemauan untuk belajar.
---
Penutup dari Pidi (yang bukan Pidi)
Jadi, kalau kamu sekarang lagi berjalan. Entah itu jalan kaki dari kampus ke kosan, atau jalan scroll-scroll cari ilmu di HP. Niatkan saja.
Niatkan: Aku sedang mencari jalan pulang.
Karena kata Abi Hurairah, setiap langkahmu yang kamu pakai untuk mencari ilmu, Allah sedang membangunkan jalan tol untukmu menuju surga.
Dan jalan tol itu gratis. Tidak perlu tap e-toll.
Sekian.
Dari Khusaini, yang masih belajar.
Surakarta, 2026. Pas habis hujan.
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih