JALAN PULANG




1. Pembuka

Ada dua hadis yang ditulis Ibu di tembok dapur kami. Pakai spidol. Di samping tulisan "GAS HABIS HUBUNGI PANGKALAN".

Hadis pertama:
"Barangsiapa menempuh jalan menuju ilmu, Allah akan membukakan jalan baginya menuju Surga." - HR. Abu Hurairah

Hadis kedua:
"Mereka (orang berilmu) adalah pelita bagi umatmu di dunia dan akhirat. Beruntung orang yang mengenal mereka, celaka yang membenci mereka."

Aku baca itu setiap hari sambil nunggu air mendidih.

---

BAB 1: Ayah

Ayahku itu bukan orang berilmu. Begitu katanya.

Kerjanya supir angkot. Trayek Cicaheum - Cibiru. Berangkat jam 5 subuh, pulang jam 8 malam. Bau keringat dan bensin. 

Aku pernah bilang, "Yah, Ayah kan bukan ustadz, bukan dosen, bukan pelita."

Ayah cuma ketawa. Giginya ada yang ompong satu di depan. Jadi ketawanya ada anginnya.

"Ya, Ayah memang bukan pelita, Nak. Ayah mah cuma kabelnya."

Aku bingung.

"Kabel?"

"Iya. Yang nganterin setrum biar lampu bisa nyala. Tugas Ayah nganterin kamu ke sekolah. Biar kamu yang jadi pelitanya nanti."

Sejak saat itu aku berhenti malu dijemput angkot Ayah di depan gerbang sekolah. Padahal angkot Ayah bunyi knalpotnya kayak singa batuk.

Ayah adalah jalan pertamaku menuju ilmu. Jalan yang berbunyi, bergetar, dan kadang mogok di tengah jalan. Tapi tetap jalan.

BAB 2: Ibu

Kalau Ayah adalah kabel, Ibu adalah saklarnya.

Ibu tidak tamat SMA. Ibu bilang, "Ibu dulu disuruh nikah, bukan disuruh kuliah."

Tapi Ibu yang menulis dua hadis itu di tembok. Ibu yang setiap jam 4 pagi sudah membangunkan aku.

"Nak, bangun. Menempuh jalan ilmu."

Aku ngantuk, "Jalannya masih gelap, Bu."

"Justru karena gelap, kamu butuh pelita."

Ibu adalah pelita versi rumahan. Cahayanya tidak terang seperti lampu sorot masjid. Cahayanya seperti lampu tidur. Tidak menyilaukan, tapi bikin berani.

Ibu tidak pernah marah kalau nilaiku jelek. Ibu cuma bilang,

"Nilai jelek itu tidak apa-apa. Yang celaka itu kalau kamu benci sama gurumu. Kalau kamu sudah benci sama yang ngasih ilmu, kamu akan gelap selamanya."

Aku ingat hadis kedua itu. Celakalah orang yang mengingkari atau membenci mereka.

Aku pernah benci sama Pak Karim, guru Matematika. Karena dia galak. Lalu Ibu bilang, "Dia galak karena dia mau kamu terang. Kalau dia biarin kamu bodoh, dia yang celaka."

Malam itu aku minta maaf sama Pak Karim lewat WA. Dibalas: "Oke."

Singkat. Tapi terang.

BAB 3: Aku

Aku adalah aku.

Anak yang menempuh jalan.

Jalan ku bukan jalan tol. Jalan ku adalah gang kecil dari rumah ke madrasah, yang kalau hujan beceknya seperti bubur ayam tanpa ayam.

Sepatuku pernah putus di tengah jalan. Aku nangis. Ayah yang lagi narik angkot, berhenti, turun, dan minjemin sendal jepitnya ke aku. Jadi hari itu Ayah nyetir angkot pakai kaki satu sendal, satu nyeker.

Penumpangnya komplain, "Supirnya kayak habis kebanjiran."

Ayah jawab, "Iya, kebanjiran doa dari anak saya."

Aku yang pakai sendal Ayah itu berjalan ke sekolah. Kakiku kebesaran. Seperti langkahku menuju cita-cita. Kebesaran, tapi tetap harus ditempuh.

Di kelas, aku tidak paling pintar. Tapi aku paling ingat dua hadis di tembok dapur.

Suatu hari aku tanya sama Ibu,

"Bu, kalau aku terus menempuh jalan ilmu, beneran jalannya surga dibukain?"

Ibu yang lagi ngulek sambal berhenti ngulek.

"Nak," katanya, "Surga itu kan jauh. Ayah dan Ibu mungkin tidak bisa nganter kamu sampai sana. Tapi kalau kamu sudah terbiasa menempuh jalan ilmu, nanti kamu tidak akan tersesat. Karena di setiap persimpangan, akan ada pelita."

"Pelitanya siapa?"

Ibu menunjuk ke arah pintu. Ayah baru pulang. Bajunya basah keringat.

"Itu. Pelita pertama kamu."

Aku melihat Ayah. Ayah melihatku. Lalu Ayah bilang,

"Woy, jangan melo. Bantuin dorong angkot, mogok lagi."

Kami bertiga tertawa. Di dapur yang temboknya ada tulisan hadis dan "GAS HABIS".

Dan sore itu, aku yang tadinya mau jadi apa saja, tiba-tiba pengen jadi orang berilmu. Bukan biar dipuji. Tapi biar nanti, ketika Ayah dan Ibu sudah tidak ada, aku bisa jadi pelita kecil di rumah ini. Yang menerangi jalan mereka juga.

Karena ternyata, hadis itu tidak hanya tentang aku yang jalan ke surga.

Tapi tentang Ayah yang jadi jalannya, Ibu yang jadi pelitanya, dan aku yang sedang belajar menyalakan keduanya.

TAMAT.

---


Komentar

Postingan Populer