JALAN PULANG IBRAHIM Ayat-Ayat Cinta dari Lembah Namrud


JALAN PULANG IBRAHIM

Ayat-Ayat Cinta dari Lembah Namrud

---

Lelaki itu pulang dengan langkah yang berat. Jubahnya masih berdebu dari perdebatan panjang di istana Raja Namrud.

Namanya Ibrahim. Khalilullah.

Orang-orang di pasar masih membicarakan kehebatannya. "Lihatlah, Ibrahim telah membungkam raja!" Namun tidak ada yang tahu, bahwa di dalam dada Ibrahim saat itu ada sebuah kegelisahan yang suci. Kegelisahan seorang pecinta yang ingin lebih dekat mengenal Kekasihnya.

Ia telah berkata kepada Namrud, "Tuhanku-lah yang menghidupkan dan mematikan."

Namrud tertawa pongah, "Aku pun bisa menghidupkan dan mematikan!"

Ia memanggil dua orang lelaki dari penjara. Yang satu dibebaskannya, yang satu lagi dipenggal lehernya di hadapan rakyat.

Ibrahim terdiam. Bukan karena kalah hujjah. Tetapi karena hatinya perih. Betapa hinanya manusia yang menyamakan kekuasaan semu dengan kekuasaan Allah yang hakiki.

Di keheningan malam Babylonia, di bawah langit yang bertabur bintang, Ibrahim membentangkan sajadahnya. Air matanya jatuh satu per satu. Ia bukan meragukan Tuhannya. Justru karena ia telah mencintai Tuhannya dengan seluruh jiwa raganya, ia ingin melihat keagungan-Nya dengan mata kepalanya sendiri.

Lalu terucaplah sebuah munajat yang abadi, yang kemudian Allah abadikan dalam Al-Qur'an agar kita semua yang hatinya gersang bisa belajar bagaimana cara merayu Allah:
"Rabbi... Ya Tuhanku... Arinii kaifa tuhyil mautaa... Perlihatkanlah kepadaku, wahai Rabbku tercinta, bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang telah mati."
Allah menjawab dengan kasih sayang yang tiada tara. Firman yang lembut namun menggetarkan:
"Awalam tu'min? Belumkah engkau beriman, wahai Ibrahim, Kekasih-Ku?"
Ibrahim terisak. Ia meletakkan keningnya di atas tanah. 
"Balaa... Ya, Ya Rabb, aku telah beriman! Aku beriman dengan segenap nafasku. Walakin liyathma'inna qalbi... Akan tetapi aku ingin agar hatiku ini tenang, agar cintaku semakin sempurna, agar kerinduanku terobati dengan melihat kebesaran-Mu."
Subhanallah. Betapa indahnya adab seorang Nabi. Ia tidak protes. Ia tidak menuntut. Ia memohon dengan cinta.

Maka Allah pun memberinya sebuah pelajaran cinta yang tidak akan pernah dilupakan oleh semesta.

Allah berfirman, "Wahai Ibrahim, ambillah empat ekor burung."

Ulama tafsir mengatakan, empat burung itu adalah lambang dari empat penyakit hati manusia: merak yang melambangkan cinta akan keindahan dan kesombongan, gagak yang melambangkan ketamakan akan dunia, ayam jantan yang melambangkan syahwat, dan merpati yang melambangkan kelengahan.

"Fashurhunna ilaika... Jinakkanlah mereka kepadamu, sembelihlah mereka, cincanglah mereka hingga lumat, campurkan daging dan bulu mereka menjadi satu."

Betapa berat perintah itu. Namun Ibrahim melakukannya tanpa bertanya mengapa. Karena bagi seorang pecinta, perintah Kekasih adalah kenikmatan.

Setelah daging itu lumat dan tak bisa lagi dibedakan mana merak dan mana gagak, Allah berfirman lagi, "Waj'al 'ala kulli jabalin minhunna juz'a... Letakkanlah setiap bagiannya di atas tiap-tiap bukit yang terpisah jauh."

Ibrahim pun mendaki bukit demi bukit. Peluhnya bercucuran. Nafasnya terengah. Satu genggam ia letakkan di bukit sebelah timur, satu genggam di bukit sebelah barat, satu di utara, dan satu lagi di selatan. Ia memisahkan sesuatu yang telah bersatu, sejauh-jauhnya.

Lalu ia turun ke lembah. Di tangannya hanya tersisa empat kepala burung yang masih utuh. Sunyi. Hening.

"Tsumma ud'uhunna... Sekarang panggillah mereka, wahai Ibrahim."

Ibrahim mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Dengan suara yang bergetar oleh iman, ia memanggil:

" Wahai burung-burungku... kembalilah... dengan izin Allah!"

Allahu Akbar!

Saat itu juga, terjadilah mukjizat. Partikel-partikel daging yang ada di atas bukit-bukit itu bergetar. Darah mencari darahnya. Bulu mencari pasangannya. Tulang beterbangan mencari ruasnya. Mereka melesat di angkasa, bersatu kembali, membentuk empat ekor burung yang utuh, yang hidup, yang terbang dengan cepat, sa'yan — berlari dengan penuh kerinduan — menuju panggilan Ibrahim, menuju kepala mereka yang ada di genggaman Khalilullah.

Empat burung itu hinggap di hadapannya. Hidup. Seolah tidak pernah disembelih.

Ibrahim tersungkur sujud. Tangisnya pecah. Bukan tangis sedih, tapi tangis seorang pencinta yang baru saja diperlihatkan betapa Maha Perkasanya Kekasihnya.

Saat itu ia mengerti.

Bahwa jika Allah mampu memanggil empat burung yang dagingnya telah tercincang dan tersebar di empat penjuru bukit untuk kembali hidup, maka sangat mudah bagi Allah untuk memanggil tulang-belulang kita yang telah menjadi debu di perut bumi, yang telah berserakan di lautan, untuk bangkit kembali pada Hari Kebangkitan.

Di lembah itulah, iman Ibrahim yang sudah ilmu yaqin berubah menjadi ainul yaqin dan haqqul yaqin.

Dan Allah menutup ayat itu dengan kemesraan:
"Wa'lam annallaha 'Aziizun Hakiim. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Maha Perkasa untuk menghidupkan apa saja yang telah mati, termasuk hati kita yang telah lama mati karena dosa.

Dan Maha Bijaksana, karena Dia hanya memperlihatkan rahasia-rahasia cinta-Nya kepada hamba-hamba yang memohon dengan cinta, seperti Ibrahim.

Wahai hati yang telah lama mati, tidakkah engkau ingin seperti Ibrahim? Memanggil Allah di tengah malam dan berkata, "Ya Rabb, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan hatiku yang telah mati ini?"

Mungkin, Allah pun akan menyuruhmu untuk menyembelih empat burung di dalam hatimu: kesombonganmu, ketamakanmu, syahwatmu, dan kelalaianmu. Cincanglah mereka, sebarkan jauh-jauh, dan panggillah nama Allah.

Niscaya hatimu akan hidup kembali, terbang menuju-Nya.

Sumber :




Komentar

Postingan Populer