JALAN DAN TUJUAN
Namaku Fahri. Bukan Fahri yang di Kairo itu, tapi aku juga pernah mengaji di pelataran Al-Azhar. Kini aku pulang, menjadi guru ngaji kecil di sebuah langgar kayu di tepi Bengawan Solo.
Di langgar itulah aku bertemu dengannya. Namanya Aisyah.
Aisyah bukan santri biasa. Ia pintar, hafal Alfiyah, suaranya merdu saat melantunkan Burdah. Tapi hatinya gelisah. Sejak ayahnya — seorang mursyid tarekat — wafat, ia tenggelam dalam wirid yang panjang. Ia menangis berhari-hari di depan makam ayahnya.
"Aku rindu Rasulullah, Mas Fahri," katanya suatu senja setelah ngaji Sirrul Asrar. "Sampai aku lupa, aku ini siapa. Aku berdzikir menyebut namanya terus, tapi hatiku kosong. Aku merasa sudah sampai, tapi kenapa Allah terasa jauh?"
Aku ingat pesan guruku di Mesir, tentang sebuah kalam dari kitab Sirrul Asrar karya Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Jailani.
Aku tidak menjawabnya dengan dalil panjang. Aku hanya mengajaknya ke tepi sungai.
"Lihat perahu itu, Dik Aisyah?"
Sebuah perahu kecil tertambat.
"Perahu itu indah. Dibuat dengan kayu terbaik, oleh pembuat perahu terbaik. Tanpa perahu itu, kita tidak akan pernah bisa menyeberang ke seberang. Perahu itu adalah jalan."
Aisyah mengangguk.
"Rasulullah Muhammad SAW adalah perahu itu. Dia adalah Hakikat Muhammad, Nur yang pertama diciptakan, jalan yang paling terang, perahu yang paling kokoh. Dari Nurnya, semua alam ini tercipta. Kita mencintainya, kita meneladaninya, kita naik ke atasnya."
Aku lalu menunjuk ke seberang sungai. Di sana, sawah menguning, langit jingga keemasan, dan adzan maghrib berkumandang sayup dari kejauhan.
"Tapi tujuan kita bukan perahunya, Aisyah. Tujuan kita adalah seberang itu. Tujuan kita adalah Allah. Jika kita hanya memuja-muja perahunya, mengelus-elusnya di tepian, dan tidak pernah mendayung untuk menyeberang, kita tidak akan pernah sampai."
Aisyah terdiam. Air matanya jatuh.
"Selama ini aku menyembah perahu, Mas..."
"Tidak, kamu mencintai perahu. Dan cinta itu benar. Tapi cinta pada perahu seharusnya membuatmu semangat mendayung, bukan malah berlabuh di tempat."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Aisyah berdzikir berbeda. Ia tidak lagi hanya memanggil-manggil nama kekasih. Ia mulai memanggil Pemilik Kekasih.
La ilaha illallah.
Ia berbisik, "Ya Allah, aku datang dengan perahu cinta kepada Rasul-Mu. Jangan halangi aku sampai kepada-Mu."
Tiga bulan kemudian, Aisyah datang dengan senyum yang berbeda. Senyum yang tidak lagi gelisah, tapi tenang.
"Mas Fahri, aku sudah paham," katanya. "Dulu aku mengira dengan terus menyebut nama Muhammad aku sudah bersama Allah. Padahal aku baru memeluk jalannya saja."
Lalu ia melanjutkan, "Sekarang aku tahu. Saat aku shalawat, aku sedang belajar caranya mencinta. Dan saat aku sujud, aku sedang membuktikan kepada siapa cinta itu harus berlabuh."
Aku melamarnya seminggu setelah itu. Bukan karena aku guru dan dia murid. Tapi karena kami akhirnya menemukan arah kiblat yang sama.
Di malam akad, aku berbisik di telinganya, kalimat yang kau titipkan padaku tadi:
"Kenali Muhammad sebagai jalanmu, kenali Allah sebagai tujuanmu. Jangan sembah jalan, sembahlah Tujuan."
Dan Aisyah menjawab dengan air mata bahagia, "Ya, karena jalan tanpa tujuan adalah kesesatan, dan tujuan tanpa jalan adalah mustahil."
TAMAT.
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih