CEROMLAH & UJANG


Ujang menikahi Ceromlah pada hari Selasa.

Kenapa Selasa? Karena kalau Senin, Ujang masih nyuci motor. Kalau Rabu, tukang riasnya lagi arisan. Jadi Selasa adalah hari paling masuk akal untuk menikah.

1. Malam Pertama yang Terlalu Jujur.

Mereka duduk di kasur. Kasurnya baru. Spreinya masih bau toko. Ada motif bunga yang kalau dilihat lama-lama, bunganya terlihat seperti sedang melotot.

Ceromlah sedang melipat celana dalam. Punya Ujang. Warna abu-abu. Ada satu yang karetnya sudah kendor.

Ujang menatapnya. Lalu dia bertanya. Dan pertanyaan itu adalah pertanyaan paling serius yang pernah dilontarkan seorang lelaki yang baru menikah 4 jam 32 menit.

Ujang: "Ceromlah."

Ceromlah: "Ya?"

Ujang: "Jika suatu hari nanti aku tidak bisa membelikanmu celana dalam, apakah kamu masih mau menemaniku hingga nyawa lepas dari tubuhku?"

Ceromlah berhenti melipat.

Ceromlah: "Ujang."

Ujang: "Iya."

Ceromlah: "Kamu itu kalau ngomong kenapa harus langsung ke celana dalam dan kematian? Tidak bisa pelan-pelan dulu? Misalnya, 'jika aku tidak bisa membelikanmu cilok'?"

Ujang: "Karena cilok itu 5 ribu dapat banyak. Celana dalam itu simbol."

Ceromlah: "Simbol apa?"

Ujang: "Simbol bahwa aku sebagai suami masih berfungsi. Karet celana dalam adalah karet kehidupan."

Ceromlah menghela napas. Inilah laki-laki yang ia nikahi. Lelaki yang bisa membuat analogi antara karet celana dalam dan kehidupan.

2. Filsafat Celana Dalam Menurut Ujang.

Menurut Ujang, hidup itu seperti celana dalam.

Kata Ujang, "Ada yang di luar terlihat keren, pakai jaket, pakai sepatu bagus, tapi dalamnya robek. Ada yang di luar biasa saja, tapi dalamnya baru, nyaman, dan setia menutupi. Kamu yang mana, Ceromlah?"

Ceromlah: "Aku yang di luar biasa, di dalam juga biasa. Sedang-sedang saja."

Ujang: "Bagus. Aku suka yang sedang-sedang saja. Yang terlalu wah, biasanya capek."

Lalu Ujang melanjutkan ceramahnya.

"Celana dalam itu tidak pernah dipuji orang. Tidak ada orang yang lewat dan bilang, 'Wah, celana dalammu bagus sekali hari ini.' Tidak ada. Tapi kalau tidak pakai, semua orang akan sadar ada yang salah. Jadi, ia adalah pahlawan yang tidak terlihat. Seperti aku."

Ceromlah: "Kamu itu pahlawan yang tidak terlihat atau yang tidak mandi?"

Ujang tertawa. Tawa Ujang itu seperti knalpot motor yang kendor. Berisik, tapi jujur.

3. Jawaban Ceromlah.

Malam itu, Ceromlah tidak langsung menjawab.

Dia selesai melipat celana dalam abu-abu yang karetnya kendor itu. Dilipatnya dengan rapi, seolah-olah kendornya bisa sembuh kalau dilipat dengan penuh kasih sayang.

Lalu dia bilang,

"Cang."

Cang adalah panggilan sayang Ceromlah untuk Ujang. Singkatan dari Kacang. Karena Ujang suka kacang.

Ceromlah: "Cang, kalau kamu tidak bisa membelikan aku celana dalam, ya tidak apa-apa. Nanti aku tidak pakai celana dalam."

Ujang: "Jangan begitu. Nanti masuk angin."

Ceromlah: "Ya biarin. Masuk angin kan bisa dikerokin. Yang penting kamu masih di sini. Ngorok di sebelahku."

Ujang: "Aku tidak ngorok."

Ceromlah: "Kamu ngorok. Tadi kamu tidur siang 10 menit saja, ngoroknya sampai tukang bakso di depan berhenti."

Ujang diam. Dia tahu dia ngorok.

Ceromlah melanjutkan, "Dengar, Jang. Aku menikah sama kamu bukan karena kamu bisa membelikan aku celana dalam. Kalau cuma celana dalam, di pasar banyak. 3 10 ribu, bahannya tipis, tapi ya lumayan."

"Aku menikah sama kamu karena kamu adalah satu-satunya orang yang mau diajak berdebat tentang apakah cicak itu kalau jatuh sakit atau pura-pura sakit."

"Jadi, kalau suatu hari kamu tidak bisa membelikan aku apa-apa, bahkan celana dalam sekalipun, aku tetap akan di sini. Sampai nyawa lepas dari tubuhmu. Dan kalau nyawamu sudah lepas, aku tungguin dulu, siapa tahu nyasar."

Ujang menatap Ceromlah. Matanya berkaca-kaca. Atau mungkin kelilipan debu sprei baru.

Ujang: "Kamu romantis sekali, Ceromlah. Dengan cara yang agak serem."

4. Epilog: Karet yang Kendor.

Besok paginya, Ujang bangun duluan. Dia pergi ke warung.

Pulang-pulang, dia membawa satu plastik hitam. Isinya: 3 celana dalam baru untuk Ceromlah. Warna pink, kuning, dan satu lagi warna pink lagi tapi pinknya beda dikit.

Ceromlah: "Katanya tidak bisa membelikan?"

Ujang: "Ini hasil ngutang dulu sama Mang Tatang. Aku bilang, 'Mang, ini untuk mempertahankan pernikahan saya.' Mang Tatang langsung kasih. Katanya dia paham, karet celana dalam adalah karet kehidupan rumah tangga."

Ceromlah tertawa. Lalu memeluk Ujang.

Dan di dalam pelukan itu, Ujang berbisik,

"Nanti kalau karetnya kendor lagi, kita kendor bersama ya."

Ceromlah: "Ih, apaan sih."

Tapi ia tidak melepas pelukannya.

Karena memang begitulah cinta. Kadang kencang, kadang kendor. Tapi tetap dipakai.

Komentar

Postingan Populer