Bapak, Ibu, dan Surga di Dapur
Bab 0: Prolog yang Tidak Penting-penting Amat
Aku pernah dikutuk jadi celaka sama Rasulullah. Tidak langsung ke aku sih. Tapi kata guruku, ada haditsnya.
"Celaka, celaka, celaka, orang yang punya orang tua masih hidup, satu atau dua-duanya, tapi tidak membuatnya masuk surga."
Waktu mendengar itu aku diam. Bukan karena insyaf. Karena aku lagi mikir, celaka itu rasanya kayak gimana. Apakah seperti tidak kebagian gorengan terakhir di meja? Atau seperti ditolak Milea?
Ternyata lebih celaka dari itu.
Namaku Gilang. Bukan Dilan. Kalau Dilan itu berat, dia tidak rindu, dia yang dirindukan. Kalau aku, berat juga. Berat disuruh Ibu beli gas elpiji.
---
Bab 1: Bapak
Bapakku namanya Bapak. Bukan, nama aslinya Pak Warsa.
Bapakku itu lelaki Sunda yang pendiam. Se-pendiam motor Astrea yang mogok. Dia tidak banyak bicara, tapi sekali bicara, isinya tagihan listrik.
Sejak pensiun, kerjaan Bapak adalah:
Menyiram tanaman yang sebenarnya tidak perlu disiram.
Mematikan lampu yang masih aku pakai.
Bertanya "kapan beres kuliah?" setiap hari Selasa dan Jumat.
Aku sayang Bapak. Tapi cara sayangku aneh. Aku lebih sering sayang lewat diam. Padahal Bapak juga diam. Jadi di rumah itu ada dua orang lelaki yang saling menyayangi lewat kompetisi diam. Ibuku yang jadi wasit.
Sore itu Bapak memanggilku.
"Gil."
"Ya, Pak."
"Temenin Bapak ke masjid."
Aku bilang, "Nanti, Pak, tanggung, lagi ngerjain tugas."
Padahal tugasnya cuma scroll TikTok sampai ujung.
Bapak tidak marah. Dia hanya bilang "Oh" lalu pergi sendiri. Pakai sarung kotak-kotak yang sudah 10 tahun setia. Sandalnya jepit swallow yang jepitnya sudah miring.
Dari jendela, aku lihat punggungnya. Kecil. Agak bungkuk. Tiba-tiba aku ingat waktu kecil, punggung itulah yang aku naiki sambil teriak "kuda! kuda!"
Sekarang kuda itu sudah tua, dan aku masih sibuk jadi joki scroll.
Bab 2: Ibu
Kalau Bapak adalah gunung yang diam, Ibu adalah radio yang tidak ada tombol off-nya.
Ibuku, Bu Lastri, adalah ahli dalam segala hal. Ahli masak, ahli ngomel, ahli menemukan barang hilang yang sebenarnya ada di depan mata.
"Gil, tolongin Ibu angkatin jemuran, deuih!"
"Gil, ini piring bekas siapa?"
"Gil, kamu itu kalau disuruh..."
Aku mencintai Ibu dengan cara yang paling menyebalkan: aku sering membantah.
Ibu pernah bilang, "Nanti kalau Ibu sudah tidak ada, kamu baru ngerasa."
Waktu itu aku jawab, "Ih, Ibu ngomong apa sih."
Padahal di dalam hati aku takut. Takut beneran. Karena surga itu, kata ustadz di pengajian RT 05, ada di telapak kaki Ibu. Lah, aku tiap hari lewat telapak kaki Ibu tapi tidak pernah salim yang benar. Salimku kayak setoran formalitas.
Suatu malam, Ibu sakit. Tidak sakit parah. Hanya pusing dan pegal-pegal. Tapi dia tetap masak. Tetap nyuci.
Aku lewat dapur. Ibu lagi ngulek sambal. Tangannya sudah keriput. Ulekan itu berat, tapi dia tumbuk terus.
Aku bilang, "Bu, udah, beli aja sambalnya."
Ibu menjawab tanpa menoleh, "Bapakmu tidak suka sambal beli. Katanya kurang marah."
Aku diam. Ternyata cinta itu sesederhana: tahu sambal mana yang disukai suaminya, selama 30 tahun.
Dan aku? Aku bahkan tidak tahu obat pusing Ibu ada di mana.
Bab 3: Surga yang Dekat
Ustadz DKM bilang, "Surga itu dekat bagi yang punya orang tua."
Aku dulu mikir surga itu jauh. Harus puasa Senin Kamis, harus hafal 30 juz, harus jadi panitia kiamat.
Ternyata, menurut hadits yang bikin aku merasa tertampar itu, surga itu ada di rumah. Bentuknya kadang cerewet. Kadang pendiam. Kadang minta tolong dibelikan gas.
Sejak itu aku mencoba trik baru. Trik ala Pidi Baiq, yaitu: mencicil surga.
Caranya:
Pagi: Bikin Bapak kopi, tanpa disuruh. Walaupun kopinya keasinan karena aku kira garam itu gula.
Siang: Pura-pura nanya ke Ibu, "Bu, tadi resep sayur asemnya apa? Enak." Padahal aku tidak akan masak. Tapi Ibu senyumnya jadi panjang, sampai sore.
Sore: Temenin Bapak ke masjid. Tidak usah banyak omong. Jalan saja sebelahnya. Bapakku jalannya pelan sekarang. Aku yang dulu selalu jalan duluan, sekarang belajar jalan pelan, mengikuti langkahnya.
Malam: Pijitin kaki Ibu sambil dengerin dia cerita tetangga sebelah yang ayamnya hilang. Ternyata cerita Ibu lebih seru daripada Netflix.
Kata Bapak, "Kamu sudah berubah, Gil."
Aku jawab, "Tidak, Pak. Aku hanya tidak mau celaka."
Bapak bingung.
Aku jelaskan: "Ada orang celaka, Pak. Punya orang tua masih hidup, tapi tidak bisa masuk surga gara-gara mereka. Aku tidak mau jadi orang itu. Aku maunya, kalau nanti ditanya malaikat, 'kamu masuk surga lewat pintu mana?' Aku jawab, 'lewat pintu dapur, soalnya waktu di dunia saya sering bantu Ibu angkat jemuran.'"
Bapak ketawa. Untuk pertama kalinya setelah lama, ketawanya keras.
Ibu dari dapur teriak, "Ribut-ribut apa! Sana, angkat jemuran! Mau hujan!"
Aku dan Bapak saling lihat, lalu lari bersamaan ke jemuran.
Di luar, langit mendung. Tapi di dalam rumah, terang sekali.
- Selesai untuk sementara -
Catatan dari penulis:
Surga tidak selalu harus dicari jauh-jauh dengan menjadi orang hebat. Kadang surga cuma butuh kamu bilang, "Bu, biar aku saja. Pak, aku temani." Sebelum dua pintu itu tertutup selamanya.
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih