BAB JENDELA LAMA TELAH TERGANTI DENGAN YANG BARU
Prolog: Tentang Kalender di Dinding
Di rumahku ada dua kalender. Satu kalender Masehi yang ada gambar air terjunnya, satu lagi kalender Jawa yang sudah dilingkari-lingkari pakai pulpen.
Mama bilang, jangan pernah percaya sama kalender. Karena kalender itu cuma berusaha mengatur waktu, padahal waktu tidak pernah mau diatur.
Tapi sejak Ayah pergi, aku jadi percaya sama kalender.
1. Ahad Pon.
Katanya, hari itu Ahad Pon.
Tiga puluh Rabiul Awal.
Aku tidak ingat tanggal Masehinya. Aku cuma ingat, hari itu adzan Subuh terdengar lebih lama dari biasanya. Atau mungkin aku saja yang mendengarkannya lebih lama.
Ayah tidak sakit yang bagaimana-bagaimana. Ia hanya bilang, "Nanti kalau Ayah sudah tidak ada, jendelanya jangan lupa ditutup kalau hujan."
Itu saja. Kalimat terakhirnya bukan tentang wasiat tanah, bukan tentang warisan. Tentang jendela.
Lalu ia berangkat. Jauh. Menuju Maqom Sejati.
Orang-orang datang. Mereka bilang, innalillahi. Aku mengangguk-angguk saja. Karena aku baru tahu, ternyata patah hati itu bunyinya tidak keras. Pelan saja. Kayak engsel jendela lama yang karatan.
Dan di atas nisan yang masih basah itu, seseorang menuliskan dengan kapur: Al-Istiqomah khoirun min alfi karomah. Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah.
Aku baru paham belakangan. Karomah itu kan keajaiban. Bisa terbang, bisa jalan di atas air. Tapi Ayah tidak pernah terbang. Ayah cuma istiqomah. Istiqomah bangun jam 4 pagi. Istiqomah memperbaiki genteng bocor. Istiqomah menjadi Ayah.
Dan ternyata, itu lebih hebat daripada terbang.
2. Sabtu Wage.
Enam hari bakda Mulud.
Aku masih ingat, sisa jenang Mulud masih ada di kulkas. Belum sempat habis.
Lalu orang yang terpuji itu menyusul.
Kamu menyebutnya "Orang yang terpuji". Aku tahu siapa yang kamu maksud. Orang yang namanya saja artinya terpuji. Muhammad.
Kalau Ayah itu jendela, maka dia itu pintunya.
Kamu bilang hilal menunjukkan 13 dan 19, tahun 2026. Bulan ke-9 dari 12 bulan. September.
Sabtu Wage.
Hari itu aku tidak menangis sekeras waktu Ayah. Aku cuma duduk. Karena aku sudah mulai mengerti cara kerja kehilangan. Kehilangan pertama itu membuatmu jadi bodoh. Kehilangan kedua itu membuatmu jadi diam.
Dua orang yang menjadi kiblatku, pulang dengan jeda yang tidak terlalu lama. Seolah mereka janjian.
"Eh, kamu duluan ya."
"Iya, nanti aku susul. Enam hari setelah Mulud, ya."
Begitu mungkin obrolan mereka di sana.
3. Khidir dan Tembok
Mama pernah cerita tentang Nabi Khidir. Ada seorang nabi yang meninggikan tembok yang hampir roboh, di sebuah kampung yang penduduknya pelit, tidak mau memberi makan.
Musa protes, "Kenapa kau bantu mereka?"
Khidir tidak jawab waktu itu. Baru dijawab belakangan: Di bawah tembok itu ada harta anak yatim yang ditinggalkan orang tuanya yang sholeh.
Aku baru paham sekarang, kenapa kamu menulis "Berguru pada Khidir, Yang meninggikan tembok."
Setelah Ayah dan Orang Terpuji itu pergi, tembok rumahku hampir roboh. Beneran. Bukan kiasan. Tembok belakang yang sudah lama retak, miring.
Aku tidak punya uang untuk membangunnya lagi.
Tapi kemudian aku mengerti: tugasku bukan meratapi tembok yang miring. Tugasku adalah meninggikannya kembali. Pelan-pelan. Bata demi bata. Karena di bawah tembok itu, ada harta yang mereka tinggalkan. Bukan harta emas. Harta berupa kalimat: Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah.
4. Bab Jendela Baru
Kemarin, aku mengganti jendela lama itu.
Jendela yang dulu Ayah bilang jangan lupa ditutup kalau hujan.
Kusam, kayunya lapuk, engselnya bunyi.
Aku ganti dengan yang baru. Yang lebih besar. Catnya putih.
Aku pasang sendiri. Agak miring sedikit, tapi tidak apa-apa. Pidi Baiq bilang, kemiringan itu kadang justru membuat sesuatu terlihat jujur.
Sekarang kalau hujan, aku tidak lagi menutup jendela. Aku biarkan terbuka sedikit. Biar airnya masuk sedikit, tidak apa-apa.
Biar aku ingat, bahwa dulu pernah ada seseorang yang menyuruhku menutupnya.
Dan biar aku ingat, bahwa sekarang, aku harus belajar menutupnya sendiri.
Selesai.
---
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih