ASLAMA
Sebuah novel tentang cara menyelamatkan semesta tanpa jadi superhero
---
BAB 1: Aslama, Yuslimu, Tasliman.
Namaku Ilham. Teman-teman manggil aku Il.
Aku kuliah semester 5, jurusan yang bahkan ibuku lupa namanya. Yang jelas, bukan jurusan perikanan.
Aku punya teman namanya Salma. Bukan Salma yang di lagu Nidji. Ini Salma yang kalau ditanya cita-cita, jawabnya: "Pengen jadi manusia yang kalau lewat, orang lain merasa selamat."
Aku bilang, "Itu cita-cita apa lowongan satpam?"
Dia bilang, "Itu Islam, Il."
Kami lagi duduk di Masjid kampus. Bukan lagi shalat. Lagi nunggu hujan reda. Masjid kampus itu enak buat nunggu hujan. Karpetnya empuk dan imannya kadang ikut empuk.
Salma buka catatannya. Tulisannya rapi. Tidak seperti tulisanku yang seperti cakaran ayam habis tawuran.
Dia nulis:
سَلِمَ - يَسْلَمُ - سَلَامًا
أَسْلَمَ - يُسْلِمُ - إِسْلَامًا
"Aku baru tahu," katanya, "Ternyata Islam itu bukan cuma nama agama. Dia itu kata kerja."
Aku bilang, "Maksudnya?"
"Aslama itu artinya menyelamatkan. Yuslimu artinya sedang menyelamatkan. Tasliman artinya penyelamatan yang bener-bener tuntas. Jadi kalau kamu bilang kamu Islam, kamu tuh harusnya tukang selamat."
Aku diam. Karena untuk pertama kalinya, definisi Islam tidak membuatku ngantuk.
BAB 2: Hadits Sendal Jepit
Salma itu hafal satu hadits yang bikin aku kepikiran seminggu.
Katanya begini:
Al-Muslimu man salimal muslimuuna min lisanihi wa yadihi.
Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.
Aku bilang, "Berarti kalau aku julid di Twitter, Islamku batal?"
Salma bilang, "Tidak batal. Cuma nyangkut. Kayak layangan."
Sejak itu aku mencoba jadi muslim versi swallow. Sederhana, murah, tapi menyelamatkan kaki orang dari paku.
Aku mulai dari hal kecil. Tidak klaksonin ibu-ibu yang sein kiri belok kanan. Tidak nyolong gorengan di warteg dan ngakunya khilaf. Tidak bikin story yang isinya nyindir orang tapi pakai kata "someone".
Salma ketawa, "Itu baru level 1, Il. Level universalnya masih jauh."
Aku nanya, "Universal tuh gimana?"
Dia jawab, "Universal tuh kamu menyelamatkan bahkan orang yang tidak seagama, tidak sekelas, tidak se-geng sama kamu. Karena Nabi bilang: Irhamu man fil ardhi, yarhamkum man fis sama'. Sayangi siapa saja yang ada di bumi."
Siapa saja. Bukan siapa saja yang sefrekuensi.
BAB 3: Misi Menyelamatkan Kucing dan Manusia Bernama Pak Ujang
Di kosanku ada kucing kurus namanya Item. Ada juga bapak kos namanya Pak Ujang.
Aku dulu benci dua-duanya. Item suka berak sembarangan. Pak Ujang suka nagih kos tanggal 1 jam 6 pagi.
Salma bilang, "Il, coba praktek Aslama."
Hari itu aku kasih Item ikan. Pak Ujang aku kasih senyum. Gratis. Tidak pakai kuota.
Ajaib. Item tidak berak sembarangan lagi. Pak Ujang nagih kosnya jadi tanggal 3.
Aku lari ke Salma, "Ma, teori kamu berhasil!"
Dia bilang, "Itu bukan teori aku. Itu teori Rasulullah. Beliau diutus bukan cuma rahmatan lil muslimin, tapi rahmatan lil 'alamin. Buat semesta. Buat kucing, buat tukang kos, buat kamu yang kadang nyebelin."
Aku tersinggung. Tapi iya juga sih.
Pidi Baiq pernah nulis: Dan janganlah kamu membenci. Kalau kamu benci, bencilah secukupnya. Sisanya pakai buat beli es teh.
Aku memutuskan untuk tidak benci lagi. Lumayan, uang bencinya bisa buat beli es teh buat Item.
BAB 4: Cara Menyelamatkan Seseorang Tanpa Banyak Omong
Suatu hari Salma sedih. Katanya keluarganya berantem.
Aku yang biasanya banyak bacot, hari itu tidak tahu harus ngomong apa. Akhirnya aku cuma duduk di sebelahnya. Diam. Ngasih tisu. Satu.
Dia nangis pelan.
Setelah selesai, dia bilang, "Makasih ya, Il. Kamu sudah menyelamatkan aku hari ini."
Aku kaget, "Aku kan tidak ngapa-ngapain."
Dia bilang, "Justru itu. Kamu menyelamatkan aku dari ceramah yang tidak aku butuhkan."
Sejak itu aku paham. Tasliman itu tidak selalu harus khutbah. Kadang tasliman itu cuma: kamu hadir, kamu diam, dan kamu tidak bikin orang lain merasa lebih buruk.
Itu Islam universal yang paling susah. Menyelamatkan orang dari diri kita sendiri.
BAB 5: Penutup Yang Tidak Ditutup
Sekarang hujan sudah reda. Masjid sudah sepi.
Salma pamit duluan. Dia bilang mau ke Cilacap, mau KKN.
Aku bilang, "Titip salam buat laut Cilacap."
Dia bilang, "Titip salam buat dirimu sendiri."
Aku pulang jalan kaki. Sendal jepitku yang satu swallow satu ando masih setia.
Di jalan aku lihat anak kecil jatuh dari sepeda. Aku tolong berdiriin. Anaknya bilang, "Makasih, Om."
Padahal aku masih 21. Sakit.
Tapi tidak apa-apa. Hari ini aku sudah berhasil yuslimu. Sedang menyelamatkan. Satu orang.
Besok, semoga dua orang.
Lusa, semesta.
Karena ternyata Islam itu bukan soal seberapa banyak hafalanmu, tapi seberapa banyak orang yang merasa selamat karena kamu ada.
Seperti kata Salma di halaman terakhir catatannya yang dia tinggalin buat aku:
Jangan cuma jadi orang Islam. Jadilah orang yang meng-Islam-kan sekitar. Yang kalau kamu lewat, orang bilang: Alhamdulillah, aman.
Dan aku, Ilham, yang dulu cuma Il, pulang hari itu dengan perasaan aslama. Selamat. Diselamatkan. Dan sedang belajar menyelamatkan.
- SELESAI -
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih