AKU, AYAH, IBU, DAN LILIN YANG LUPA MATI
Bab 1
AKU, AYAH, IBU, DAN LILIN YANG LUPA MATI
Aku itu punya Ayah dan Ibu.
Ayah itu orangnya pendiam. Kalau ngomong, irit. Kayak kuota internet tanggal tua.
Ibu itu kebalikannya. Kalau ngomong, panjang. Tapi anehnya, aku betah dengerin.
Suatu malam, Ayah tiba-tiba ngomong pas kami lagi makan.
"Ulama su' itu seperti lilin," kata Ayah.
Aku berhenti ngunyah.
"Ia menerangi orang lain, tapi membakar dirinya sendiri," lanjut Ayah.
Aku lihat Ibu. Ibu lihat Ayah. Ayah lihat tempe.
"Kenapa Ayah ngomong gitu?" tanyaku.
Ayah menyeruput tehnya. "Tadi di masjid, ada orang ceramah keras sekali. Semua orang dibilang sesat. Tapi dia sendiri tadi parkir motornya di tengah jalan. Bikin macet."
Ibu ketawa. "Nah itu dia. Ayahmu itu kalau nyindir, halus."
Aku bilang, "Bu, kalau gitu Ayah termasuk ahli sindiran Islam dong?"
Ibu jawab, "Ayahmu itu ahli sindiran diam. Disindir balik, dia tidur."
Kami semua ketawa. Ayah tidak ketawa. Dia hanya senyum. Senyum Ayah itu mahal. Keluarnya setahun sekali, tapi kalau sudah keluar, rasanya lebaran.
Malamnya lagi, Ibu lagi nyetrika baju aku. Baju yang bolong gara-gara aku jatuh dari motor karena ngejar layangan.
Ibu bilang, "Kamu itu sekolah yang benar."
Aku bilang, "Aku kan sekolah, Bu."
Ibu bilang, "Sekolah itu bukan cuma datang. Banyak orang mencari ilmu untuk 3 hal: untuk debat, untuk dipuji, dan untuk menguasai orang lain. Mereka semua tidak akan mencium bau surga."
Aku kaget. Ibu bisa ngomong gitu.
"Bu, Ibu dapat dari mana kalimat itu?" tanyaku.
Ibu tidak menjawab. Dia hanya menunjukkan buku catatan kecil yang sudah lecek. Di sampulnya tertulis: Catatan Ibu.
Ternyata Ibu itu mencatat semua yang dikatakan Ayah. Ayah yang pendiam itu, kalau sudah ngomong di rumah, dicatat Ibu.
Aku buka halaman pertama. Tulisan tangan Ibu.
Hari ini Ayah bilang: Jangan jadi lilin yang lupa diri.
Halaman kedua.
Hari ini Ayah bilang: Ilmu itu bukan untuk menang, tapi untuk pulang.
Aku tiba-tiba merasa bodoh. Selama ini aku mengira Ayah itu tidak pernah menasihati aku. Ternyata Ayah menasihati Ibu, dan Ibu menasihati aku dengan cara yang tidak menyakitkan.
Tidak seperti guru BP di sekolah yang kalau nasihatin, rasanya seperti disetrap di lapangan upacara.
Besok paginya, aku pamit ke sekolah.
Aku salim ke Ibu. Aku salim ke Ayah.
Ayah bilang, "Jangan jadi lilin, ya."
Aku bilang, "Maksudnya?"
Ayah bilang, "Jadilah lampu. Menerangi orang lain, tapi tidak membakar diri sendiri. Caranya? Jangan pamer."
Ibu menambahkan, "Dan jangan lupa bawa bekal. Biar tidak jajan sembarangan."
Aku berangkat.
Di jalan, aku mikir. Ternyata Ayah dan Ibu itu adalah dua ulama yang tidak pernah merasa ulama.
Ayah adalah ulama diam.
Ibu adalah ulama catatan.
Dan aku adalah santri yang masih sering lupa bawa pulpen.
BAB 2:
AKU, AYAH, IBU, DAN BAU SURGA
Hari Minggu itu hujan.
Aku, Ayah, dan Ibu terjebak di dalam rumah. Tidak ada yang bisa dilakukan. TV mati karena listrik mati. HP Ayah lowbat. HP Ibu dipakai untuk senter.
Akhirnya kami mengobrol. Kegiatan langka yang biasanya hanya terjadi kalau ada pemadaman.
Aku memulai, karena aku merasa paling pintar di rumah itu. Padahal tidak.
"Yah, Bu, kata Imam Ghazali, banyak orang mencari ilmu untuk 3 hal: untuk debat, untuk dipuji, dan untuk menguasai orang lain. Mereka tidak akan mencium bau surga."
Ayah mengangguk. "Terus?"
"Terus, aku jadi mikir," kataku, "Aku ini termasuk yang mana ya?"
Ibu yang lagi mengupas bawang menjawab tanpa melihat aku, "Kamu yang keempat."
Aku kaget. "Keempat? Bukannya cuma tiga?"
Ibu bilang, "Keempat: untuk menjawab soal ujian, habis itu lupa."
Ayah ketawa. Pertama kalinya hari itu Ayah ketawa keras. Sampai batuk.
Aku protes, "Bu, jangan gitu dong. Aku ini kan lagi proses mencari jati diri."
Ayah bilang, "Jati diri itu tidak dicari, Nak. Jati diri itu dikembalikan. Kamu asalnya dari surga, jadi kalau kamu bingung, pulang saja ke surga."
Aku bilang, "Caranya gimana pulang ke surga, Yah? Kan belum mati."
Ayah diam lama. Ayah kalau diam lama itu artinya sedang memikirkan jawaban yang bagus, atau ketiduran dengan mata terbuka.
Lalu Ayah bilang, "Caranya jangan jadi orang yang bau."
"Bau apa?" tanyaku.
"Bau ingin dipuji. Bau ingin menang debat. Itu bau yang tidak enak. Malaikat tidak suka. Surga apalagi."
Ibu menimpali, "Makanya Ayahmu itu kalau di pengajian tidak pernah bertanya. Bukan karena Ayahmu bodoh. Ayahmu takut kalau bertanya cuma biar kelihatan pintar."
Aku lihat Ayah. Ayah lihat lantai.
"Jadi Ayah takut tidak mencium bau surga?" tanyaku.
Ayah menggeleng. "Ayah takut Ibu tidak mencium bau masakan Ayah. Makanya Ayah tidak pernah masak."
Ibu melempar kulit bawang ke Ayah. Ayah menghindar. Aku ketawa.
Hujan masih turun. Listrik masih mati.
Tapi di dalam rumah itu, anehnya, harum.
Bukan harum bawang goreng Ibu. Bukan harum minyak telon.
Haram yang lain. Harum orang-orang yang tidak berebut ingin terlihat hebat.
Malam itu aku menulis di buku catatan Ibu. Di halaman paling belakang. Diam-diam.
Tulisan Aku: Hari ini aku belajar, ilmu itu bukan untuk bikin aku wangi di depan orang, tapi untuk bikin aku tidak bau di depan Allah.
Ibu melihat tulisanku besok paginya. Ibu tidak komentar. Ibu hanya menambahkan di bawahnya dengan tulisan Ibu yang miring-miring.
Catatan Ibu: Kalau begitu, mulai besok, belajarnya jangan cuma pas mau ujian ya, Nak.
Sial. Ketahuan.
BAB 3:
AYAH, IBU, DAN AKU YANG REBUTAN JADI LILIN
Besoknya aku memutuskan untuk menjadi lilin.
Bukan lilin yang buruk yang kata Ayah itu. Tapi lilin yang baik.
Aku bilang ke Ibu di dapur, "Bu, mulai hari ini aku mau jadi orang yang berguna. Menerangi orang lain."
Ibu yang lagi ngulek sambal berhenti. "Bagus. Mau menerangi siapa?"
Aku bilang dengan gagah, "Teman-teman. Aku mau bantuin semua tugas mereka. Biar mereka tidak susah."
Ibu mengangguk-angguk. "Oh, jadi kamu mau jadi lilin yang meleleh demi orang lain yang main HP."
Aku tidak mengerti, tapi aku anggap itu pujian.
Di sekolah, aku laksanakan misiku.
Si Andi minta jawaban matematika, aku kasih.
Si Budi minta dibuatin poster, aku bikinin.
Si Cica minta ditemenin curhat sampai jam 1 malam, aku temenin.
Tiga hari aku jadi lilin. Hari keempat, aku habis.
Tugasku sendiri belum dikerjakan. Mataku hitam kayak panda. Uang jajan habis buat fotokopi tugas orang.
Aku pulang dengan muka meleleh beneran.
Ibu lihat aku. "Lilinnya sudah habis ya?"
Aku menjatuhkan tas. "Bu, capek jadi orang baik."
Ayah yang dari tadi baca koran bekas tahun 2019, melipat korannya.
Ayah bilang, "Makanya Ayah bilang kemarin. Jangan jadi lilin."
"Lah, katanya harus menerangi orang lain, Yah?" protesku.
Ayah bilang, "Iya. Tapi lilin itu bodoh. Dia membakar dirinya sendiri biar orang lain terang. Lama-lama dia habis, orang lain tetap cari lilin baru. Dia mati, dilupakan."
Aku terdiam. Itu benar. Andi, Budi, Cica, hari ini sudah tidak nge-chat aku lagi karena tugas mereka sudah selesai.
Ibu menambahkan, sambil menuang air minum untukku, "Jadilah lampu, Nak. Bukan lilin."
"Bedanya apa, Bu?"
"Lampu itu menerangi, tapi dia tidak membakar dirinya sendiri. Dia dicolokkan ke listrik. Listriknya itu Allah. Kalau kamu dekat sama sumbernya, kamu bisa terang terus, tanpa harus habis."
Ayah mengangguk. "Lilin itu kalau ditiup angin, mati. Lampu itu kalau mati listrik, tinggal nunggu listrik nyala lagi. Tidak panik."
Aku mengerti. Akhirnya aku mengerti kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah terlihat capek jadi orang baik.
Karena Ayah dan Ibu tidak pernah membakar diri mereka sendiri untuk disukai orang.
Ayah menerangi Ibu dengan cara diamnya.
Ibu menerangi Ayah dengan cara cerewetnya.
Mereka tidak saling membakar. Mereka saling mengisi daya.
Malam itu, aku tidak lagi nge-chat Cica sampai jam 1 malam. Aku bilang, "Cic, maaf ya, aku mau tidur dulu. Besok kita curhat lagi kalau kamu masih butuh."
Cica menjawab, "Oke. Good night."
Ternyata tidak apa-apa untuk tidak selalu jadi lilin.
Aku lalu menulis lagi di buku catatan Ibu. Di bawah tulisan Ibu kemarin.
Tulisan Aku: Hari ini aku berhenti jadi lilin. Aku mau jadi lampu. Biar tidak habis.
Ibu baca lagi besok paginya. Ibu senyum.
Terus Ibu tulis di bawahnya:
Catatan Ibu: Bagus. Kalau jadi lampu, jangan lupa bayar listrik. Caranya: sholat.
Ayah lewat, baca tulisan itu, dan bilang, "Dan jangan lupa, lampu yang baik itu tidak silau. Terangnya pas."
Aku: "Maksudnya, Yah?"
Ayah: "Maksudnya jangan pamer kalau sudah jadi lampu."
Aku kalah lagi.
BAB 4:
AYAH, IBU, DAN AKU YANG MENCIUM BAU SURGA DI DAPUR
Hari itu Ibu sakit.
Tidak sakit yang serius. Hanya pusing. Kata Ibu, "Pusing karena mikirin kamu yang belum jadi lampu yang bener."
Jadi, untuk pertama kalinya dalam sejarah rumah kami, Ayah masak.
Ini adalah peristiwa besar. Seperti gerhana matahari total. Jarang terjadi, dan tidak boleh dilihat langsung karena berbahaya.
Ayah masuk dapur jam 6 pagi. Pakai sarung, pakai kaos oblong yang ada tulisan DILAN 1990 yang sebenarnya itu kaos aku yang kekecilan.
Aku mengintip dari pintu.
"Yah, mau masak apa?" tanyaku.
Ayah bilang, "Nasi goreng. Bau surga."
Aku kaget. "Bau surga itu kayak nasi goreng?"
Ayah bilang, "Kata Ibu, bau surga itu ada di dapur orang yang ikhlas."
Lalu Ayah mulai perang.
Minyaknya terlalu banyak. Nasi nya terlalu lembek. Kecapnya tumpah. Ayah panik. Ayah yang biasanya tenang kalau ban motor bocor di tengah hujan, kali ini panik karena bawang merah.
Aku mau bantu, tapi Ayah bilang, "Jangan. Kamu tetap jadi lampu. Ayah mau belajar jadi lilin sebentar."
"Katanya jangan jadi lilin, Yah?"
"Ini beda. Ini lilin yang sengaja membakar diri untuk istrinya yang pusing. Ini boleh. Ini namanya cinta. Lilin yang dilarang itu lilin yang membakar diri biar dipuji orang."
Aku diam. Ayah itu kalau sudah ngomong panjang, artinya dia sedang jatuh cinta.
15 menit kemudian, nasi goreng itu jadi. Bentuknya tidak karuan. Warnanya agak gosong. Tapi baunya... anehnya harum.
Ibu keluar dari kamar. Memegang jidat.
Ibu melihat nasi goreng di piring.
Ibu melihat Ayah yang keringetan.
Ibu tidak komentar soal bentuknya. Ibu hanya duduk, mengambil sendok, dan makan.
Satu suap. Dua suap.
Ibu bilang, "Enak."
Ayah kaget. "Enak beneran?"
Ibu bilang, "Enak. Karena yang masak tidak mencari pujian, tidak mencari untuk menang debat siapa paling jago masak. Yang masak cuma mencari ridho istrinya."
Aku yang melihat dari pojokan, tiba-tiba mencium sesuatu.
Bukan bau nasi goreng gosong Ayah.
Tapi bau yang lain. Bau tenang. Bau rumah yang tidak saling menuntut.
Aku baru paham. Selama ini aku kira bau surga itu kayak parfum mahal di toko. Ternyata bau surga itu bau dapur yang berantakan, tapi diisi orang yang tidak saling membakar.
Ayah tidak membakar Ibu dengan ego.
Ibu tidak membakar Ayah dengan tuntutan.
Dan aku, untuk pertama kalinya, tidak membakar mereka dengan drama aku ingin jadi pahlawan.
Malam itu, listrik tidak mati. Tapi kami tetap mengobrol di dapur. Bertiga. Sambil makan nasi goreng gosong yang rasanya... ternyata beneran enak.
Aku menulis lagi di buku catatan Ibu. Halaman terakhir yang kosong.
Tulisan Aku: Hari ini aku mencium bau surga. Ternyata baunya mirip nasi goreng gosong buatan Ayah.
Ibu membacanya. Lalu Ibu menulis di bawahnya, dengan huruf yang sudah agak gemetar karena masih pusing.
Catatan Ibu: Bau surga itu memang tidak selalu wangi. Kadang gosong sedikit. Yang penting ikhlas masaknya.
Ayah membaca tulisan kami berdua. Lalu Ayah mengambil pulpen dan menulis paling bawah. Tulisan Ayah besar-besar, jelek, tapi jujur.
Catatan Ayah: Besok Ibu masak lagi ya. Ayah sudah tobat.
Kami bertiga ketawa. Sampai Ibu pusingnya hilang.
SELESAI.
---
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih