Pagi Senin Kliwon
01 — Pagi yang Tak Bosan
Pagi ini Senin Kliwon, 17 Mulud. Kalender Jawa menunjukkan tahun 1959 Dal, sementara
kalender Masehi 31 Agustus 2026. Surakarta masih setengah mengantuk.
Matahari naik dari timur dengan disiplin yang membuatku iri. Ia tak pernah bosan menjalankan
tugasnya. Setiap hari datang, menyinari genteng-genteng kampung, pematang sawah yang
mulai mengering, dan amben bambu di depan rumahku.
Aku duduk di amben itu. Kopi hitam sudah dingin. Harapan dan cita-cita — ah, dua kata itu
terasa jauh sekali pagi ini. Tidak jelas ke depan mau dibawa kemana. Seperti kabut di atas
Bengawan Solo, ada tapi tak bisa dipegang.
Saat itulah bayangan panjang jatuh di halamanku.
02 — Tamu 90 Tahun
Seorang kakek berdiri di gapura. Usianya mungkin 90 tahun. Tubuhnya kurus tapi tegak. Ia
memakai blangkon coklat yang sudah luntur, baju lurik, dan sarung kotak-kotak yang dilipat
setinggi lutut. Matanya... matanya bening sekali, tidak seperti mata orang tua pada umumnya.
Seperti mata bayi yang baru lahir, tapi menyimpan gunung pengalaman.
"Monggo pinarak, Mbah," sapaku, agak gugup.
Ia tersenyum. Tanpa banyak bicara, ia duduk di sebelahku. Anehnya, amben bambu yang sudah
reot itu tidak berderit sama sekali saat ia duduk. Ia menghirup aroma kopi dinginku, lalu berkata
pelan, "Enak kopi ini, Le. Pahitnya pas. Seperti urip."
Aku belum sempat bertanya siapa dia, dari mana, mau kemana. Ia sudah mulai bercerita, seolah
tahu persis apa yang sedang berkecamuk di kepalaku.
03 — Papat Sedulur
'Kowe ngira kowe ijen, to, Le?' tanya kakek itu, masih menatap sawah.
Aku terdiam. Memang itu yang kurasakan. Ijen. Sendirian.
'Kowe ora ijen. Ono papat sedulur sing tansah ngancani kowe. Saka kowe jabang bayi nganti
mengko kowe bali.'
Ia lalu menyebut satu per satu, dengan suara yang berat dan sakral:
1. Kakang Kawah — air ketuban. Kakak tertua yang memecah jalan agar kamu lahir ke dunia.
Ia adalah pelindung di depan.
2. Adi Ari-ari — ari-ari, adikmu yang setia. Ia yang menjadi kasur dan pangananmu di dalam
kandungan. Ia penjaga di belakang, yang memberimu pijakan bumi.
3. Getih — darah. Saudara yang mengalir di sekujur tubuhmu. Ia adalah kekuatan, semangat,
keberanian.
4. Puser — pusar, tali pusat. Pusat dari segala rasa. Ia adalah penghubungmu dengan Gusti,
dengan langit.
'Papat sedulur iki ora tau lunga, Le. Yen kowe nangis, Kakang Kawahmu sing ngusapi. Yen
kowe ngelih, Adi Ari-arimu sing nyangoni. Yen kowe wedi, Getihmu sing ngobongi. Yen kowe
kesasar, Pusermu sing narik kowe bali. Kowe iki Pancer, tengah-tengahnya. Jaga sedulurmu,
maka sedulurmu akan jaga kowe.'
04 — Ojo Pedhot Asa
'Lalu apa yang harus aku lakukan, Mbah, kalau musibah datang bertubi-tubi?' tanyaku akhirnya.
Suaraku hampir pecah.
Kakek itu meletakkan telapak tangannya yang keriput tapi hangat di atas dadaku. Tepat di ulu
hati.
Elinga, Le...
Urip iku sawang sinawang.
Sapa sing sabar, bakal subur.
Sapa sing eling lan waspada,
bakal slamet ing donya akhirat. Ojo pedhot asa — jangan pernah putus asa atas apapun musibah.
Karena musibah itu bukan hukuman. Ia adalah jeweran sayang dari Gusti, supaya kowe
eling papat sedulurmu.
Ia melanjutkan, 'Yen kowe kelangan, elinga Kakang Kawah — kau masih punya air mata
untuk membersihkan luka. Yen kowe kekurangan, elinga Adi Ari-Ari — bumi ini masih
memberimu pijakan. Yen kowe lemes, elinga Getihmu — di dalam nadimu masih ada api.
Yen kowe kesasar, elinga Pusermu — tarik napas, balik ke pusat.'
Kata-katanya sederhana, tapi menghantam seperti gong besar di dalam dada. Aku
menunduk. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.
05 — Penutup: Wangi yang Tertinggal
Ketika aku mengangkat kepala, amben di depanku sudah kosong.
Tidak ada suara langkah pergi. Tidak ada derit pintu. Kakek 90 tahun itu hilang begitu saja,
seperti embun yang disedot matahari. Di atas amben, hanya ada bekas duduk yang masih
hangat. Dan secangkir tehku — yang tadi ia seruput — kini penuh kembali, masih mengepul.
Angin pagi Senin Kliwon berhembus pelan. Membawa serta wangi yang lebih kuat dari
sebelumnya: perpaduan kemenyan dan melati yang begitu nyata, hingga aku tahu itu bukan
khayalan.
Matahari kini sudah agak tinggi. Tugasnya memang tak pernah bosan. Dan untuk pertama
kalinya pagi itu, aku pun merasa tugas hariku menjadi jelas kembali. Bukan karena masalahku
selesai. Tapi karena aku ingat, aku tidak pernah sendirian.
Papat sedulurku masih di sini. Menemani.
— ∞ —
Ditulis pada Senin Kliwon, 17 Mulud 1959 Dal,
di sebuah amben bambu di Surakarta, saat matahari baru saja belajar tersenyum.
Mugi migunani. Colophon
Naskah ini dicetak terbatas 50 eksemplar ukuran A4 pada kertas HVS 80gr. Dicetak untuk
keluarga, sahabat, dan siapa saja yang pernah merasa ijen di pagi hari. Aksara Jawa pada
sampul berbunyi papat sedulur. Seluruh cerita adalah fiksi spiritual yang diinspirasi oleh pitutur
kejawen Surakarta.
Surakarta • Mulud 1959 Dal
Khusaini Ahmed
Buku siap cetak buku siap cetak
Sampul cover buku
Komentar
Posting Komentar
Jangan Lupa Bahagia Terimakasih